Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Perlu Terobosan dan Visi yang Kuat untuk Memajukan Pariwisata Buleleng

Francelino Junior • Rabu, 14 Agustus 2024 | 03:25 WIB
BEBER AKSESIBILITAS: Sekda Buleleng sebut adanya aksesibilitas yang mudah membuat pariwisata di Bali utara menjadi kuat dan bangkit kembali.( Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng untuk Radar Bali)
BEBER AKSESIBILITAS: Sekda Buleleng sebut adanya aksesibilitas yang mudah membuat pariwisata di Bali utara menjadi kuat dan bangkit kembali.( Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng untuk Radar Bali)

 

SINGARAJARadar Bali.id - Aksesibilitas yang mumpuni sangat diharapkan dalam memperkuat dan membangkitkan pariwisata di Kabupaten Buleleng.

Bukan tanpa alasan, jarak yang jauh antara Bali selatan dan Bali utara membuat wisatawan enggan untuk datang ke Buleleng.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa saat kunjungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI pada Sabtu (10/8/2024) ke Kabupaten Buleleng.

Dalam kegiatan tersebut hadir Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf RI, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun, dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara.

Menurutnya, aksesibilitas menjadi salah satu kendala yang menyebabkan pariwisata di Buleleng belum menjadi pilihan utama, oleh wisatawan yang berlibur ke Bali. Sedangkan Bali selatan masih menjadi pilihan yang utama.

Apalagi Buleleng memiliki potensi wisata yang cukup banyak. Mulai dari danau, pantai, seni yang berbeda, ditambah masyarakatnya yang egaliter. Tentu ini, lanjut Suyasa, dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Bila ada wisatawan yang memiliki waktu berlibur singkat, maka mereka akan memilih berlibur di Bali selatan saja atau dekat dengan bandara. Ini menjadi kerugian juga bagi Buleleng karena tidak terkena limpahan wisatawan.

”Ini perlu diperhatikan pemerintah pusat dan provinsi, sehingga aksesibilitas ke Buleleng bisa lebih lancar, lebih cepat,” kata Suyasa.

Sekda Buleleng itu mengatakan bahwa kunjungan wisatawan ke Buleleng meningkat, tentu akan memasifkan kembali penataan. Karena di Buleleng selalu menjaga pantai, hutan dan lingkungan namun tidak dibarengi dengan meningkatnya kunjungan.

Hal ini katanya akan berdampak pada biaya operasional yang berat, karena tidak ada pendapatan sama sekali.

Berdasarkan data yang mereka punya, jumlah wisatawan mancanegara per bulan Juli tercatat 270 ribu, sedangkan domestik sebanyak 500 ribu. Namun mereka ternyata hanya berkunjung saja, tidak bermalam di Buleleng.

”Dari data kami, wisatawan ke Buleleng hanya 10 persen dari total wisatawan ke Bali. Itu pun mereka hanya berkunjung, nginap-nya belum tentu di Buleleng,” lanjutnya lagi.

Ia berharap ada kajian teknis yang matang dari pemerintah pusat, mengenai moda transportasi yang cocok untuk aksesibilitas pariwisata dari Bali selatan ke Bali utara. Baik itu jalan tol, kereta cepat, ataupun bandara. 

Sehingga wisatawan yang datang ke Bali, ketika mereka berkunjung ke daerah lain utamanya ke Buleleng, tidak kehilangan banyak waktu akibat aksesibilitas yang sulit. Dengan ini, kue-kue pariwisata pun akan dapat dirasakan juga oleh warga Bali utara.

”Jika aksesibilitasnya cepat, tentu tidak akan menjadi kendala mereka menikmati Buleleng. Yang penting aksesibilitas kunjungan wisatawan ke Buleleng tidak ada gangguan. Artinya tidak sulit,” sambungnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#pariwisata #buleleng #terobosan