DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura kuno di bagian selatan Bali. Letaknya berada di puncak tebing setinggi 97 meter yang menghadap langsung Samudera Hindia.
Lokasinya di tebing yang menjorok ke laut tersebut menjadi asal mula namanya, yakni ulu (kepala) dan watu (batu). Lokasi istimewa tersebut menjadikan Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu tempat terbaik menikmati matahari terbenam di Bali.
Tak jauh dari Pura Uluwatu terdapat Pantai Pecatu yang kerap digunakan untuk olahraga selancar (surfing) kelas internasional. Keindahan panorama dan daya tarik budaya yang tinggi membuat pura ini salah satu destinasi wisata favorit di Pulau Dewata.
Pura Luhur Uluwatu didirikan pada abad ke-10 oleh Mpu Kuturan, seorang pendeta asal Majapahit yang hidup pada masa pemerintahan Udayana Marwadewa pada sekitar 1001 masehi.
Dalam sebuah lontar yang disimpan di Gedong Kertya Singaraja, Mpu Kuturan yang juga saudara kandung Mpu Baradah ini disebut juga membangun Pura Luhur Besakih dan menurunkan ajaran desa adat yang efektif menjaga ajaran Hindu dari pengaruh luar.
Untuk melindungi kesuciannya, pura ini memiliki sebuah hutan kecil yang disebut alas kekeran di depannya.
Untuk bisa mencapai pelataran (jabaan) pura, kita harus menaiki anak tangga. Di jabaan pura terdapat bangunan sedahan pengapit, bale kulkul, bale murda, dan bale sakenan.
Dari jabaan menuju jabaan tengah kita harus melewati candi bentar berbentuk sayap burung. Sedangkan untuk mencapai bagian dalam (jeroan) pura kita melewati candi kurung yang dijaga dwarapala berbentuk ganesha.
Dalam tradisi Hindu Bali, Pura Uluwatu merupakan salah satu Pura Sad Kayangan yang menyangga sembilan mata angin yang dipercaya melindungi Bali dari segala pengaruh buruk.
Pura ini juga menjadi akhir perjalanan suci (moksa) seorang pendeta asal Kediri bernama Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra atau Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh pada 1550 yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.
Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.
Selain keindahan pura dan pemandangan yang spektakuler, wisatawan juga dapat menyaksikan pementasan tari kecak api yang diadakan setiap menjelang matahari terbenam.
Wisatawan yang mengunjungi pura disarankan berhati-hati dengan kera (wanara) yang tinggal di sekitar pura karena kerap mengambil barang milik pengunjung, terutama kacamata, tas, atau topi untuk ditukar dengan makanan.
Karena Pura Uluwatu merupakan tempat yang disucikan, mengunjungi pura ini diwajibkan berpakaian sopan. Bagi yang mengenakan celana pendek akan diberikan selendang di pintu masuk sebagai tanda penghormatan.
Pengunjung juga disarankan tidak menginjak sesajen atau canang, tidak menganggu upacara agama, tidak berkata kasar, tidak membuang sampah, tidak menyentuh atau menaiki bangunan pura, serta tidak memasuki tempat suci kecuali untuk sembahyang.***
Editor : M.Ridwan