DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Desa Tenganan Pegringsingan di Karangasem adalah destinasi wisata budaya yang menawarkan pengalaman berbeda di Bali.
Dikenal sebagai desa Bali Aga, Tenganan mempertahankan tradisi unik seperti kain Gringsing, kain tenun ikat ganda yang melegenda, dan ritual Mekare-kare atau Perang Pandan.
Wisata ke Desa Tenganan akan membawa Anda menyelami kehidupan masyarakat Bali kuno yang masih menjunjung tinggi adat istiadat leluhur.
Penduduk Asli Bali
Masyarakat Desa Tenganan dikenal sebagai Bali Aga atau Bali Mula, kelompok masyarakat yang diyakini sebagai penduduk asli Bali sebelum kedatangan pendatang dari kerajaan Majapahit pada abad ke-14.
Karena itu, krama Desa Tenganan memiliki tradisi dan adat istiadat yang unik serta berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya.
Menuju Desa Tenganan
Desa Tenganan berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Kota Denpasar. Lokasinya yang berada di kawasan Karangasem membuat desa ini juga bisa menjadi bagian dari perjalanan wisata ke destinasi lain seperti Candidasa atau Pura Besakih.
Kain Magis Gringsing
Kain gringsing, yang menjadi ikon Desa Tenganan, dibuat melalui teknik dobel ikat yang rumit dan memakan waktu berbulan-bulan. Kain ini dipercaya memiliki kekuatan magis untuk melindungi pemakainya dari energi negatif.
Tidak mengherankan jika kain gringsing menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung.
Arsitektur
Salah satu daya tarik Desa Tenganan adalah struktur desa yang terencana rapi, mencerminkan filosofi masyarakat Bali Aga tentang keseimbangan hidup.
Pusat desa digunakan untuk upacara keagamaan, sementara rumah-rumah penduduk mengelilinginya dengan pola simetris.
Teknologi modern seperti televisi dan kendaraan bermotor terasa asing. Masyarakat setempat dengan bangga mempertahankan tradisi hidup mereka yang harmonis dengan alam.
Perang Pandan yang Unik
Salah satu tradisi menarik di Desa Tenganan adalah mekare-kare atau perang pandan. Tradisi ini merupakan ritual penghormatan kepada Dewa Indra, dewa perang dalam kepercayaan Hindu Bali.
Dalam tradisi ini, para pria desa bertarung menggunakan pandan berduri sebagai senjata, sementara punggung mereka hanya dilapisi kain sarung. Tradisi ini dilakukan dengan semangat persaudaraan. Luka-luka kecil akibat duri pandan dianggap sebagai simbol pengorbanan dan kesucian.
Suasana semakin meriah dengan iringan gamelan selonding, alat musik tradisional yang hanya dimainkan saat upacara adat.
Gaya Hidup Berkelanjutan
Desa ini menerapkan sistem pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, seperti pengelolaan air yang efisien dan larangan penggunaan bahan kimia dalam pertanian.
Jika Anda mencari pengalaman yang berbeda saat berlibur di Bali, Desa Tenganan adalah tempat yang akan membuat Anda jatuh cinta pada pandangan pertama.
Editor : Ibnu Yunianto