Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Candidasa, Karangasem, akan Ditata Sebagai Ikon Pariwisata Gumi Lahar, Begini Rencananya

Zulfika Rahman • Selasa, 13 Mei 2025 | 16:10 WIB

 

SEDANG DIRANCANG : Objek wisata Candidasa, Karangasem akan banyak penataan. (dok.radar bali)
SEDANG DIRANCANG : Objek wisata Candidasa, Karangasem akan banyak penataan. (dok.radar bali)

AMLAPURA, Radar Bali.id- Pantai Candidasa yang saat ini masih terlihat semrawut akan ditata kembali. Pantai yang terletak di Desa Bugbug ini saat ini tengah menjadi pilot project konservasi pantai, dengan harapan bisa menghadirkan kembali pesona pasir putih alami.


Hal itu terungkap saat forum afternoon tea yang digagas PHRI Karangasem dan sejumlah pegiat pariwisata dan dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata-Pandu Prapanca Lagosa pada Jumat lalu (9/5/2025).


Nantinya Pantai Candidasa akan dilakukan penataan dan koservasi, sehingga pantai yang Candidasa menjadi ikon destinasi favorit wisata Karangasem. ”Kita tahu, Candidasa sudah cukup lama menjadi destinasi wisata. Ini kami akan tata menjadi lebih baik,” kata Bupati Gus Par. 


Selain itu, Gus Par memaparkan di tengah tantangan global pariwisata dan kekhawatiran atas degradasi budaya serta lingkungan, Kabupaten Karangasem hadir membawa arah baru. ”Kami membawa konsep Nyegara Gunung. Sebuah strategi besar yang digagas oleh saya dan Guru Pandu (wakil bupati) sebagai wujud nyata penyelamatan pariwisata Bali dari akar lokal yang luhur,” tuturnya.


Dia menjelaskan, untuk konsep nyegara gunung sendiri, lahir dari perenungan panjang. Kata dia, hal tersebit bukan sekadar branding. ”Ini sebuah filosofi hidup yang menjadi pijakan arah pembangunan pariwisata Karangasem,” ungkap Wabup Pandu.


Ia menegaskan, pariwisata Karangasem tidak dibangun untuk hiburan instan atau industri gemerlap. Dia menyebut, Karangasem bukan tempat untuk hiburan glamor. ”Di sini tempatnya ketenangan, refleksi, meditasi, spiritualitas. Kami bukan menjual budaya, tapi menjaga budaya agar tetap hidup. Karena bukan budaya yang hidup dari pariwisata, tetapi pariwisata yang hidup dari budaya,” tegasnya.


Dalam forum itu juga memperkuat kesepahaman bahwa objek wisata tidak boleh hanya jadi tempat berkunjung, tapi juga pusat pertumbuhan ekonomi lokal. “Setiap destinasi harus hidup dan menghidupkan wilayahnya. Jangan ada tumpukan sampah, bangunan liar tanpa regulasi. Semua harus dipikirkan bersama,” kata Wabup Pandu.


Pelaku usaha didorong aktif membayar pajak, mematuhi regulasi, dan ikut serta mempromosikan Karangasem melalui media digital maupun menghadirkan influencer. “Dengan begitu kita bisa lari maraton bersama menuju Karangasem yang agung,” tandasnya.

Wira, pengusaha muda asal Sidemen, menutup forum dengan suara generasi baru. Dirinya mengapresiasi konsep yang digagas Bupati dan Wabup Karangasem dalam menghidupkan pariwisata Karangasem. “Jangan copy-paste daerah lain. Karangasem punya identitas sendiri. Kembangkan wisata alam dan budaya yang membumi. Saya sendiri membuktikan di Sidemen, sudah punya 40 homestay yang sangat diminati wisatawan dan akan terus tumbuh jika berpegang teguh konsep Nyegara Gunung,” sebutnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#Penataan #pariwisata #karangasem #candidasa #Dinas Pariwisata