TABANAN, Radar Bali.id - Objek wisata ikonik Tanah Lot di Tabanan mengalami penurunan jumlah kunjungan yang signifikan hingga pertengahan tahun 2025. Penurunan ini mencapai 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 2024.
Manajer Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, I Wayan Sudiana, menyebut beberapa faktor utama penyebab penurunan ini, mulai dari gejolak global hingga kondisi ekonomi domestik.
"Kunjungan wisatawan turun 10 persen dari bulan Januari sampai Juli 2025," ungkap Sudiana.
Ia menambahkan, penurunan ini jauh dari target yang ditetapkan, yakni rata-rata 5.500 hingga 6.000 kunjungan per hari. "Paling-paling mentok di angka 5.000 orang per hari, bahkan bisa di bawah itu," keluhnya.
Gejolak Global dan Ekonomi Domestik Jadi Penyebab Utama
Menurut Sudiana, menurunnya minat wisatawan disebabkan oleh:
- Dampak Perang: Konflik di berbagai belahan dunia, seperti perang Rusia-Ukraina, Iran-Israel, hingga perang di Asia Tenggara antara Thailand dan Kamboja, membuat banyak wisatawan membatalkan rencana perjalanan mereka ke Bali.
- Efisiensi Anggaran: Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat membuat daya beli masyarakat menurun. Hal ini berdampak pada putaran ekonomi yang melambat, sehingga banyak perusahaan dan sekolah menunda kegiatan study tour atau perjalanan wisata.
- Bencana Alam dan Travel Warning: Erupsi Gunung Lewotobi di Flores, NTT, sempat mengganggu jadwal penerbangan. Ditambah lagi adanya pembatasan perjalanan (travel warning) dari pemerintah Australia, yang merupakan salah satu pasar wisatawan terbesar bagi Bali.
Optimisme Melalui Festival
Meskipun menghadapi tantangan besar, manajemen DTW Tanah Lot tetap optimis. Mereka berharap penurunan ini dapat teratasi dan jumlah kunjungan bisa kembali normal.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggelar Festival Tanah Lot keenam pada 22 hingga 24 Agustus 2025."Mudah-mudahan dengan adanya festival ini, kami bisa mendongkrak kembali jumlah kunjungan wisatawan," tutup Sudiana.[*]
Editor : Hari Puspita