Di tengah riuhnya keramaian Festival Art dan Food Tanah Lot, ada satu hidangan sederhana yang berhasil mencuri perhatian banyak orang: Entil Sanda Pupuan. Sajian khas Tabanan ini bukan sekadar kuliner biasa, melainkan warisan rasa yang sarat filosofi, dan kini menjadi magnet bagi warga lokal maupun wisatawan.
SESIAPA yang lewat pasti penasaran. Apalagi bila hidung kita membaui sedapnya masakan itu. Tak pelak bila selama festival yang berlangsung dari 21 hingga 25 Agustus, stan yang menjual Entil Sanda Pupuan tak pernah sepi.
Antrean pembeli dari Tabanan, Denpasar, bahkan wisatawan asing, rela menunggu demi mencicipi kelezatan yang jarang dijumpai ini.
Omzet penjualan pun melonjak drastis, mencapai Rp7 juta per hari, menunjukkan betapa besarnya kerinduan masyarakat terhadap kuliner otentik ini.
Dari Tradisi Khusus Menjadi Bisnis Andalan
Entil, yang sekilas mirip lontong, memiliki sejarah unik. Menurut I Gede Dedi Ardika Putra,25, penjual entil di festival, makanan ini hanya dibuat pada momen-momen istimewa.
"Dulunya, entil hanya bisa dijumpai saat perayaan Hari Raya," ujar Dedi. Di Kecamatan Pupuan, entil dibuat empat hari setelah Galungan, sementara di Penebel saat Pengerupukan Nyepi.
Namun, kini entil tak lagi menjadi santapan musiman. Ni Nyoman Srinasih menjadi pelopor yang mengenalkan kuliner ini secara komersial sejak 2016. Berkat resep rahasianya, kini entil Sanda Pupuan dikenal luas dan menjadi primadona kuliner khas Tabanan.
Sensasi Rasa yang Tak Terlupakan
Seporsi entil adalah perpaduan cita rasa yang kompleks dan memanjakan lidah. Bahan utamanya, yaitu beras merah dan beras putih yang dibungkus dengan daun kali ngidi, menghasilkan lontong dengan tekstur dan aroma khas. Namun, yang membuat entil ini istimewa adalah lauk pauknya.
Ada sayur urap dari daun paku, serundeng, kacang kedelai goreng, suwiran ayam sisit, telur pindang, dan keripik talas yang renyah.
Semua kelezatan itu disatukan oleh sambal embeq dan kuah kaldu kaya rempah. "Menurut pelanggan, kuahnya punya rasa kaldu yang lebih kuat dengan bumbu Bali khas," kata Dedi.
Keunikan dan kelezatan entil Sanda Pupuan tak hanya menjadikannya buruan di festival, tetapi juga suguhan utama di berbagai acara, mulai dari rapat hingga resepsi pernikahan. Seluruh bahan bakunya berasal dari produk lokal Tabanan, menegaskan cita rasa autentik dan dukungan pada petani lokal.
Keberhasilan kuliner ini juga menyumbang angka fantastis bagi festival. Manager DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, mencatat bahwa total transaksi di stan UMKM makanan mencapai lebih dari Rp1 miliar, dengan sebagian besar peserta adalah warga lokal Desa Beraban.
Kenaikan omzet ini membuktikan bahwa entil, si primadona lokal, telah sukses membawa nama Tabanan ke panggung kuliner yang lebih luas. [*]
Editor : Hari Puspita