TABANAN, Radar Bali.id – Desa Wisata Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Tabanan, kembali mengukir prestasi gemilang di mata dunia. Desa yang dijuluki sebagai kawasan Subak Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO ini baru saja menyandang status Elite Green Destinations Top 100 Stories 2025 dari kancah Internasional.
Pengumuman ini menempatkan Jatiluwih sebagai salah satu destinasi berkelanjutan terbaik dunia, setelah berhasil mengungguli sekitar 600 destinasi wisata dari 60 negara yang berpartisipasi.
Keajaiban Hijau di Tengah Ancaman Alih Fungsi Lahan
Prestasi ini menjadi sorotan, mengingat Jatiluwih saat ini tengah berjuang keras mengendalikan maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi akomodasi pariwisata. Bahkan, sebelumnya sempat ditemukan 13 pelanggaran tata ruang di kawasan Subak yang dilindungi ini.
Jatiluwih berhasil menembus daftar prestisius tersebut dengan cerita inspiratif berjudul “Green Miracle in a Cultural Heritage Living Museum” (Keajaiban Hijau di Museum Hidup Warisan Budaya). Kisah ini menyoroti bagaimana sistem irigasi tradisional Bali, yaitu Subak, dapat hidup berdampingan dengan pariwisata modern tanpa kehilangan "jiwa" dan fungsi utamanya.
Komitmen Menuju Wisata Regeneratif
Kepala Pengelola Desa sekaligus Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna, menyebut pengakuan ini melengkapi deretan prestasi internasional mereka. Sebelumnya, Jatiluwih juga telah dinobatkan sebagai Best Tourism Village in the World oleh UN Tourism pada tahun 2024.
"Kini, sekali lagi Jatiluwih membuktikan diri sebagai mercusuar global bagi pariwisata berkelanjutan. Bahwa destinasi wisata bisa mendatangkan kesejahteraan tanpa mengorbankan akar budaya dan alamnya," ujar Jhon Purna, Jumat (3/10).
Ke depan, Jhon Purna menegaskan komitmen pengelola untuk terus menjaga Jatiluwih sebagai destinasi wisata regeneratif.
"Artinya, setiap langkah pengelolaan pariwisata tidak hanya mempertahankan budaya, alam, dan tradisi, tetapi juga memulihkan ekosistem, memperkuat identitas budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat," jelasnya.
Komitmen ini sekaligus menjadi "pekerjaan rumah" yang harus terus dijaga, terutama dalam menghadapi tantangan alih fungsi lahan.
"Keberlanjutan lingkungan pertanian dan kawasan subak, kearifan lokal budaya, hingga tata kelola ini jadi komitmen kami untuk tetap dipertahankan ke depan," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita