KLUNGKUNG, radarbali.jawapos.com – Polemik seputar proyek lift kaca di destinasi wisata alam pantai kelingking kini terus bergulir baik pro maupun kontra. Di kalangan warga nusa penida, proyek lift kaca kelingking dinilai bisa membawa kemakmuran bagi warga nusa penida klungkung yang selama ini tertinggal dari kabupaten lain di bali.
Tanggapan terkait proyek lift kaca antara lain datang dari warga desa ped nusa penida wayan adi. pria yang merantau ke denpasar ini mengaku heran mengapa proyek yang sudah hampir rampung baru dipersoalkan.
"Pertanyaannya kenapa baru sekarang dipersoalkan, distop, setelah proyek hampir rampung, kenapa tidak dari awal dilarang,' ujarnya heran.
Baca Juga: Nah! Kasus Lift Kaca Pantai Kelingking: Kejari Klungkung akan Panggil Dua Kepala Dinas Pemprov Bali
Menurut wayan setiap proyek pembangunan pasti mempunyai dampak positif dan negatif. namun untuk proyek lift kaca di nusa penida wayan melihat lebih banyak dampak positifnya.
"Dampak negatifnya mungkin keaslian alam sedikit berkurang atau berubah karena ada bangunan baru di sana. Tapi dampak positifnya saya rasa lebih banyak karena pasti membawa kemakmuran bagi warga sekitar kelingking dan nusa penida klungkung pada umumnya. wisata pantai kelingking yang sebelumnya ramai dengan adanya wahana wisata baru pasti akan menjadi lebih ramai wisatawan. perputaran roda ekonomi meningkat dan masyarakat lokal semakin sejahtera hidupnya," ujar Wayan yang membuka usaha cuci motor di denpasar ini.
Wayan menambahkan, dengan makin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dan kenaikan pendapatan dawrah, diharapkan akan ada perbikan infrastruktur di nusa penida.
"Jalan jalan yang rusak dan sempit akan diperbaiki agar lebih nyaman dan aman bagi para wisatawan, kawasan pantai juga pasti akan ditata lebih baik agar nyam dan aman bagi wisatawan. dengan jumlah investasi sebesar itu, saya yakin investor pasti akan membuat sesuatu yang bagus dan berkualitas di pantai kelingking, sehingga bisa bersaing dengan obyek wisata lain di bali atau dunia," ujarnya.
Sementara itu, Ketua PHRI Klungkung, I Putu Darmaya mengatakan tidak mudah untuk mendapatkan investasi dengan nilai besar seperti proyek lift kaca yang total investasinya sekitar Rp200 miliar.
Sehingga ia menyarankan agar hal-hal yang dilanggar dalam pembuatan lift kaca agar dibenahi sehingga tidak melanggar. Semisal ketinggian lift kaca dipandang menghalangi pemandangan, maka bisa dipotong dan dibuatkan jalan ke bawah.
Baca Juga: Beredar Kabar Investor Lift Kaca Pantai Kelingking Siapkan Gugatan, Begini Respons Bupati Klungkung
”Kami di Nusa Penida perlu investor, perlu pendapatan agar Klungkung ini hebat. Kalau tidak hebat, bagaimana membangun infrastruktur, apa mesti pinjam uang?,” ujarnya.
Besar harapannya pemerintah, investor, dan tokoh masyarakat dapat duduk bersama dalam melakukan perbaikan.
”Tidak ada yang boleh dirugikan karena ini kesalahan bersama. Kenapa tidak dikontrol saat pasang fondasi, kenapa baru teriak saat sudah jadi,” jelasnya.
Persoalan glass viewing platform (lift kaca) di Pantai Kelingking masih menjadi pembahasan hangat di media hingga saat ini. Pro dan kontra mewarnai setiap perkembangan mengenai proyek tersebut. Kondisi tersebut ternyata cukup memengaruhi Bupati Klungkung, I Made Satria, hingga membuatnya enggan membahas kembali persoalan ini.
”Terkait Kelingking (lift kaca, Red) sudah saya tutup (pembahasannya, Red). Saya serahkan ke Bapak Gubernur,” ujarnya Satria, Rabu (3/12).
terkait dengan keinginan Bendesa se Kecamatan Nusa Penida melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam membahas lift kaca, ia mengaku sudah menyarankan para bendesa untuk bersurat langsung ke orang nomor satu di Pemprov Bali tersebut.
”Saya kasi clue(petunjuk) saja untuk bisa bertemu Gubernur,” jelasnya.
Dijelaskannya keberadaan lift kaca di Pantai Kelingking bukan menjadi ranah Kabupaten Klungkung lantaran berada di pesisir pantai. Di mana pesisir pantai dan pantai menjadi ranah dari pemerintah provinsi dan pusat. Sehingga ia menyerahkannya semua keputusan kepada Gubernur Bali. Sementara ia yang merupakan seorang bupati akan fokus pada sepadan pantai dan daratannya.
”Dari masuk Kelingking menuju pantai, itu ranahnya kabupaten,” terangnya.
Satria berkeinginan bertemu dengan pihak PT Indonesia Kaishi Tourism Property Investment Development Group untuk menawarkan pengelolaan destinasi pariwisata Pantai Kelingking yang ramah lingkungan. Seperti penataan tangga menuju pantai yang kondisinya saat ini cukup curam dan membahayakan.
”Saya sudah memiliki konsep untuk tangga dengan menggunakan kayu ulin yang ramah lingkungan dan aman. Dengan tangga itu, waktu tempuh bisa lebih singkat. Bila saat ini ditempuh dengan waktu 1,5 jam, dengan tangga kayu itu mungkin bisa 30 menit,” katanya.
Tidak hanya penataan tangga, ia juga akan melibatkan investor dalam penataan loket, warung, panggung, dan segala macamnya. Dengan penataan sedemikian rupa, ia berharap Kelingking tidak hanya ramai dikunjungi saat pagi hingga sore hari, tetapi hingga malam hari. ”Nah ini yang kami tawarkan (kepada investor, Red),” tandasnya.***
Editor : M.Ridwan