DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Jelang akhir tahun merupakan masa liburan, akan banyak wisatawan memesan akomodasi wisata terutama villa. Namun perlu hati-hati maraknya penipuan penyewaan villa di media sosial.
Caranya, mereka promosikan gambar dan video villa tanpa alamat dipublikasi di sosial media terutama Instagram. Modusnya alamat villa akan diberikan jika kalau sudah lakukan pembayaran kemudian hilang tiba-tiba.
Salah satu kejadi baru terjadi belum lama ini, korban dari Jakarta memesan villa lokasi Canggu di Instagram akun thevillabali. Korban sudah melakukan pembayaran lunas dengan Qris, tapi tiba-tiba minta deposit Rp 5 juta dengan alasan agar kode booking segera terbit, karena villa promo deposit itu proses Penerbitan kode booking promo.
"Agar kode bookingnya segera terbit. Nama villa dan lokasinya langsung muncul di gmail. Dipahami dananya hanya sementara dan nanti tetap dikembalikan tanpa ada potongan dalam jangka waktu 5-10 menit setelah proses diaktivasinya sudah aktif," tulis admin villa tersebut ke korban.
Koran ini konfirmasi dengan admin Bali Volla Rental an Management Association, tercatat akun The Villa Bali sebagai akun penipu (scam).
Wawancara terpisah dengan Ketua Bali Villa Rental and Management Association, Kadek Adnyana mengatakan, periode Nataru juga diwarnai maraknya penipuan (scammer) yang memanfaatkan tingginya minat wisatawan.
Modus yang digunakan adalah penawaran villa dengan harga sangat murah, namun setelah wisatawan melakukan pembayaran, pelaku menghilang tanpa jejak. "Menyikapi hal ini, BVRMA mengimbau wisatawan untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam melakukan pemesanan akomodasi," imbuhnya kemarin (18/12).
Sebagai bentuk komitmen terhadap perlindungan wisatawan dan pelaku usaha yang taat aturan, BVRMA telah menyediakan platform verifikasi villa yang aman dan terpercaya. Wisatawan dapat memeriksa legalitas dan kredibilitas villa melalui halaman verifikasi resmi BVRMA di: https://bvrma.org/verification-page/
Terkait, jelang Nataru tingkat penyewaan villa di Bali menunjukkan tren yang memprihatinkan. Data dari Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) mencatat tingkat okupansi villa di bawah manajemen anggota asosiasi hanya berada pada kisaran 55–60 persen, menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai sekitar 65 persen.
Penurunan ini kemungkinan disebabkan kekhawatiran wisatawan terhadap potensi bencana alam, khususnya banjir di beberapa wilayah Bali.
"Sayangnya, kekhawatiran tersebut tidak diimbangi dengan penjelasan dan kontra-narasi yang memadai dari para pemangku kebijakan, sehingga muncul persepsi keliru bahwa kondisi tersebut terjadi secara merata di seluruh Balin," kata Adnyana.
Baca Juga: Tanpa Agunan, Ketua LPD Yangbatu Salurkan Kredit Pada Istri dan Diri Sendiri
Lebih lanjut disampaikan, bencana alam tersebut hanya terjadi di titik-titik tertentu dan tidak merepresentasikan keseluruhan destinasi wisata Bali.
Adnyana juga menuturkan, pertumbuhan properti villa yang disewakan berlangsung sangat signifikan, namun tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan."Ditambah dengan minimnya promosi dan penguatan branding pariwisata Bali ke pasar internasional dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ini semakin menekan kinerja sektor pervilaan," beber Adnyana.a
Berdasarkan data BVRMA, saat ini tercatat lebih dari 49 ribu listing properti akomodasi di berbagai platform digital OTA di Bali, dan diperkirakan akan kembali beroperasi sekitar 12 ribu unit properti tambahan yang siap disewakan (data dari Real Estate Info Indonesia - REID).
Oleh karena itu pentingnya pengawasan, BVRMA menilai, tanpa pengawasan dan penataan yang serius, kondisi ini berpotensi menimbulkan oversupply, perang tarif tidak sehat, serta penurunan nilai investasi dan pendapatan usaha di sektor pervilaan.
Fenomena tersebut mulai terlihat jelas di media sosial, di mana sejumlah villa dua kamar tidur ditawarkan dengan harga hingga Rp500.000 per malam yang jauh di bawah standar harga wajar." Jika dibiarkan tanpa regulasi yang tegas, situasi ini dapat menjadi boomerang bagi keberlanjutan bisnis villa di Bali dalam jangka panjang," jelasnya.
BVRMA berharap pariwisata Bali dapat terus tumbuh secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan, dengan dukungan penuh dari pemerintah melalui penguatan regulasi, pengawasan operasional, serta kebijakan yang mampu menertibkan bisnis pariwisata—khususnya akomodasi villa.
Langkah ini penting agar pariwisata Bali tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga tetap selaras dengan nilai budaya Bali dan prinsip keberlanjutan pariwisata di masa depan.***
Editor : M.Ridwan