DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Serbuan jutaan lalat di kawasan wisata favorit Kintamani, Bangli membuat risih dan dikeluhkan pelaku pariwisata.
Owner Toya Devasya I Ketut Mardjana kepada radarbali.id mengaku sejak Desember 2025 hingga memasuki Januari 2026 ini serbuan lalat menjadi wabah menakutkan.
”Jujur saja masalah lalat ini sudah lama kami sampaikan kepada pemerintah atau pemengku kebijakan lainnya agar dicarikan formulasi mencegahnya, namun sampai sekarang tak kunjung mendapat perhatian,” ungkap Mardjana kepada radarbali.id (2/1/2026) baru lalu.
Sebab kata Mardjana, serbuan lalat selalu datang setiap musim tanam Bawang Merah dan Tomat serta tanaman musiman lainnya.
Mardjana yang juga Ketua PHRI Bangli ini mengungkap, masalah lalat ini dikeluhkan semua pelaku pariwisata di Kintamani.
Penyebabnya karena petani menggunakan pupuk kandang yang belum diolah sehingga memicu larva lalat yang sangat cepat.
”Tamu-tamu risih, bahkan ada yang sampai masuk mulut, tentu saja ini bukan masalah kecil,” papar mantan Dirut PT. Pos Indonesia ini.
Sebagai pelaku pariwisata pihaknya tidak diam. Salah satunya membuat ruang kaca yang bebas lalat dan memasang kipas angin di sejumlah sudut destinasi agar wisatawan tetap betah.
Masalahnya kata dia, lalat menyerbu terutama di restoran dan tempat-tempat istirahat wisatawan.
”Melihat kondisi ini tentu pemerintah tidak boleh diam terus, harus ada formulasi yang efektif mengatasi wabah lalat khususnya di Kintamani yang sesungguhnya sebagai sumber penyumbang PHR terbesar di Bangli dan Bali,” sentil Mardjana.
Pihaknya bahkan sudah mengusulkan agar pemerintah mengolah pupuk kandang secara modern sehingga tak memicu wabah lalat dan keberlangsungan pariwsata dan pertanian terjamin.
”Kami sebagai pengelola wisata siap berkolaborasi, yang penting kami diajak, dirangkul untuk menemukan solusi tepat mengatasi wabah lalat,” katanya.
Hal itu catatnya, jika pemerintah tak ingin tamu-tamu mengalihkan kunjungannya dari Kintamani.
Hal yang tak kalah menjadi momok sambung Mardjana, yakni infrastruktur jalan dimana sudah sering terjadi kemacetan dari arah Penolakan menuju Danau, Geopark, pemandian air hangat (hot spring) dan Trunyan.
”Tahun baru 2026 baru lalu contohnya, banyak wisatawan pelancong terpaksa putar balik karena tak ada alternatif jalan menuju lokasi wisata,” bebernya.
Karena itu pihaknya selaku PHRI juga memainta pemerintah serius memperhatikan masalah jalan ini. Misalnya membuat jalur alternatif sesuai dengan visi pariwisata berkelanjutan.***
Editor : M.Ridwan