DENPASAR, radarbali.jawapos.com– Serbuan lalat yang menjadi momok bagi kawasan wisata favorit dikeluhkan para pelaku pariwisata dan pengunjung. Fenomena ini dinilai bukan sekadar gangguan estetika, melainkan adanya masalah pada manajemen agronomi dan sanitasi lingkungan di kawasan tersebut.
Akademisi Program Studi (Prodi) Agroteknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, mengungkapkan populasi lalat ini dipicu oleh pola pemupukan petani yang kurang tepat. Penggunaan pupuk kandang mentah, terutama kotoran ayam yang belum melalui proses pengomposan, sehingga jadi serbuan serangga tersebut.
“Fenomena ini bukan sekadar gangguan wisata, tetapi juga masalah agronomi dan kesehatan lingkungan yang perlu ditangani dengan manajemen pupuk dan sanitasi yang lebih baik,” tegas Muliarta.
Baca Juga: Nihil Kasus, Bali Masih Aman dari Serangan Super Flu, Masyarakat Diminta Lakukan ini
Menurut Muliarta, kotoran ayam yang langsung diaplikasikan ke lahan hortikultura tanpa pengomposan menghasilkan aroma menyengat dan bahan organik yang sangat menarik bagi lalat. Kondisi ini diperparah dengan tingginya curah hujan yang membuat tingkat kelembaban meningkat tajam.
“Kelembaban tinggi akibat hujan mempercepat siklus hidup lalat sehingga populasinya melonjak. Di sisi lain, sistem tanam musiman dengan input organik tinggi justru meningkatkan habitat ideal bagi lalat untuk berkembang biak,” jelas pakar yang merupakan lulusan S3 Ilmu Pertanian Universitas Udayana ini.
Dalam memutus rantai perkembangbiakan lalat, Muliarta menyarankan para petani tidak langsung menebar kotoran ayam mentah ke lahan. Petani wajib melakukan proses fermentasi menggunakan bioaktivator seperti EM4 atau MOL (microorganism local) agar telur lalat mati dan bau menyengat berkurang.
Selain itu, manajemen sanitasi lahan harus diperketat. Tempat penampungan kotoran ternak tidak boleh dibiarkan terbuka, terutama di area yang berdekatan dengan permukiman atau lokasi wisata.
“Gunakan terpal atau plastik untuk menutup rapat tumpukan pupuk agar tidak menjadi tempat lalat hinggap dan bertelur,” imbuhnya.
Tak hanya mengenai pemupukan, pengendalian mekanis seperti pemasangan perangkap lalat (sticky trap atau light trap) juga diperlukan di sekitar lahan. Jika populasi sudah sangat tinggi, penggunaan insektisida bisa dilakukan secara selektif dan terbatas.
Muliarta menekankan, masalah lalat tidak bisa diatasi oleh satu petani saja. Diperlukan gerakan bersama antara petani, perangkat desa, dan pelaku wisata untuk mengelola pupuk kandang secara kolektif.
“Langkah lainnya adalah pengendalian kimiawi terbatas. Jika populasi lalat sangat tinggi, insektisida bisa digunakan secara selektif. Pilih yang aman bagi lingkungan dan hindari penyemprotan berlebihan agar tidak mencemari tanaman atau sumber air,” pungkasnya.
Pemerintah daerah pun diharapkan terus menggencarkan edukasi mengenai pentingnya pengomposan. Hal ini menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem pertanian yang ramah lingkungan sekaligus menjaga citra pariwisata Kintamani yang berkelanjutan.***
Editor : M.Ridwan