JIMBARAN, radarbali.jawapos.com — Di hadapan para pakar kelautan dan pemimpin dunia, Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa Ermawati, menegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang yang datang, melainkan seberapa kuat kita menjaga daya dukung alamnya.
Dalam pembukaan Bali Ocean Days 2026, Wamenpar memposisikan Bali sebagai "etalase sekaligus ruang ujian" bagi keseriusan Indonesia dalam mengelola pariwisata berkelanjutan.
“Kita tidak bisa lagi hanya menjual keindahan tanpa menjaga ketahanan. Di Bali Ocean Days ini, saya tegaskan bahwa Bali adalah wajah Indonesia. Jika kita gagal melakukan transformasi di sini, dunia akan meragukan komitmen kita dalam menjaga sisa surga bahari lainnya di nusantara.”
Alih-alih memberikan retorika manis, Wamenpar justru membedah kerentanan destinasi prioritas seperti Raja Ampat hingga Labuan Bajo. Ia menekankan bahwa pariwisata pesisir adalah aset yang paling mudah hancur jika dikelola secara ugal-ugalan.
“Pariwisata harus menjadi insentif untuk konservasi, bukan penyebab kerusakan permanen,” tegasnya. Fokus pemerintah kini bergeser tajam: dari pertumbuhan volume menuju penguatan tata kelola destinasi (destination management).
Bali Ocean Days: Bukan Sekadar Forum, Tapi Solusi Konkret Ketua Panitia Bali Ocean Days 2026, Yoke Darmawan, menambahkan bahwa forum ini adalah jawaban atas keresahan tersebut. Melalui eco-showcase dan business matching, forum ini mempertemukan inovator dengan investor untuk menciptakan solusi yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
“Ini bukan panggung janji, tapi arah bersama,” tutup Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa pemerintah tidak menawarkan solusi instan, melainkan kedisiplinan dalam menjaga ekosistem laut demi masa depan pariwisata yang regeneratif.***
Editor : M.Ridwan