Ini Adalah Rumah Pohon Setra Buleleng—sebuah bangunan unik yang kini direnovasi menjadi destinasi wisata heritage unggulan di Bali Utara
SAAT matahari terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti Kota Singaraja, ada pemandangan tak biasa di areal Setra (pemakaman) Desa Adat Buleleng.
Di tengah sunyinya pepohonan besar yang menjulang, tampak pendar cahaya kemerahan dari ketinggian. Bukan suasana mistis yang hendak ditonjolkan, melainkan sebuah saksi bisu perjuangan masa lalu yang kini "terbangun" dari tidurnya.
Menjadi "Mata" Pejuang di Masa Lampau
Rumah pohon ini bukanlah sekadar tempat bersantai. Jauh sebelum hiruk-pikuk pariwisata modern, bangunan di ketinggian ini memegang peran vital sebagai pos pemantauan kapal di Pelabuhan Buleleng.
Mengingat posisi Bali Utara sebagai pusat perdagangan dan gerbang utama pulau dewata di masa lampau, tempat ini menjadi titik strategis bagi pemuda Buleleng untuk mengintai pergerakan kapal-kapal Belanda.
Setiap embusan angin di atas pohon tersebut seolah membawa kembali memori ketegangan para pejuang yang berjaga, memastikan kedaulatan wilayah tetap terjaga dari ancaman bangsa asing.
Wajah Baru Tanpa Menghilangkan Jiwa
Sejak Minggu (18/01/2026), proses restorasi besar-besaran dilakukan dengan sangat hati-hati. Tujuannya satu: menjaga karakter asli dan nilai historis bangunan agar tetap melekat, namun memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang datang.
Pada Minggu (1/2/2026), Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng, Wardani Sutjidra, secara resmi memperkenalkan wajah baru situs ini.
”Rumah ini memiliki sejarah yang sangat bermakna. Dahulu fungsinya sebagai pos pengintaian, namun kini bertransformasi menjadi spot pariwisata heritage yang edukatif,” ungkap Wardani dengan nada bangga.
Edukasi di Balik Wisata City Tour
Pemerintah daerah tidak ingin tempat ini sekadar menjadi lokasi berswafoto yang estetis. Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, memproyeksikan rumah pohon ini sebagai jantung dari narasi sejarah Kota Singaraja.
Dalam waktu dekat, akses tangga yang lebih mumpuni akan ditambahkan agar pengunjung bisa naik dan merasakan sensasi menjadi "pengintai" masa lalu.
"Ke depan, rumah pohon ini akan menjadi ruang edukasi yang menceritakan peran penting Buleleng, khususnya terkait sejarah pelabuhan dan perjuangan masyarakat dalam menjaga wilayah," jelas Nyoman Sutrisna.
Keberadaan situs ini diharapkan menjadi magnet baru dalam paket city tour Kota Singaraja, mengajak wisatawan menyelami masa kejayaan pelabuhan Buleleng sambil menikmati heningnya sore di bawah rimbunnya pohon-pohon tua yang keramat.[*]
Editor : Hari Puspita