SUMBA BARAT, NTT, radarbali.jawapos.com — Festival Mata Wai, sebuah perayaan budaya berbasis lingkungan yang menegaskan pentingnya konservasi mata air di Sumba, akan digelar pada 20–21 Maret 2026 di Kampung Situs Kadoku, Desa Weimangoma, Kecamatan Wanukaka, Sumba Barat.
Festival ini diprakarsai oleh Ketua Panitia sekaligus Ketua Yayasan Rumah Seni Wanno (Sakola Wanno), Kristopel Bili, bekerja sama dengan pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat setempat.
Mengusung tema “Air Sumber Kehidupan”, Festival Mata Wai bertujuan membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai arti penting pelestarian budaya dan lingkungan, terutama sumber mata air sebagai nadi kehidupan masyarakat Sumba.
Perayaan yang Menjaga Keselarasan Alam dan Budaya
Nama “Mata Wai” berasal dari bahasa lokal Sumba yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal tentang penghormatan terhadap air sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ajaran Marapu, air dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya, sejalan dengan prinsip keselarasan antara manusia dan alam.
“Festival ini mengingatkan kita semua, terutama generasi muda, akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya. Ini titipan leluhur,” ujar Kristopel Bili dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026) di ruang Kamluh UPTD KPH Wilayah Sumba Barat dan Sumba Tengah, Waikabubak.
Ia menambahkan bahwa festival ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk menciptakan inovasi kebudayaan berbasis adat dan lingkungan.
Kolaborasi Pemerintah, Adat, dan Masyarakat
Sejumlah pejabat hadir dalam konferensi pers tersebut, antara lain:
Kepala UPTD KPH Wilayah Sumba Barat dan Sumba Tengah, Antonius U.K. Sabaora Kosi, S.Hut, Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Budaya Sumba Barat, Anisa Umar, S.IP, Kepala Desa Weimangoma, Melkianus N. Nanga dan Rato (tua adat) Ratewana Waebangga, Loli, Kornelis Bili.
Kepala UPTD KPH, Antonius Sabaora Kosi, memberikan apresiasi mendalam atas gagasan festival ini. Ia berharap kegiatan tersebut dapat kembali digelar di tahun-tahun mendatang dan berperan dalam mengkeramatkan kawasan hutan, terutama Kawasan Hutan Poronumbu yang kini terancam akibat praktik ilegal logging.
“Ini ide besar yang patut diapresiasi. Semoga menjadi awal pelestarian hutan Poronumbu yang sudah gundul akibat ulah pihak tak bertanggung jawab,” tegasnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Anisah Umar, S.IP menambahkan kiranya festival ini menjadi harapan untuk kita semua untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur kebudayaan yang tinggi. Kiranya kolaborasi antara pemerintah dan Masyarakat adat dapat bersinergi untuk menjaga alam sumba.
Aturan-aturan adat tradisi menjaga alam dengan hati, serta pemerintah menjaga dengan pikiran.
Sedang Rato Ratewana, Kornelis Bili selaku Ketua komunitas Kepercayaan Marapu menambahkan kiranya melalui kepala KKPH sumba Barat dan sumba Tengah Bersama Masyarakat untuk menghijaukan hutan Kawasan Poronumbu dan rato mendukung penuh aksi pengkeramatan hutan Poronumbu kedepan agar kiranya tidak ada lagi yang menebang hutan secara masif.
Ritual pengkeramatan mata air dan hutan tidak kompromi, barang siapa melanggar menebang pohon hutan dan tanpa pandang bulu Marapu menegur dengan hukum alam seperti ular, petir dan lain sebagainya.
Mematikan dan menakutkan.kepala Desa wai manguma juga menggungkapkan Festival mata wai Adalah sebuah Langkah stategis untuk desanya dalam mengkatkan perekonomian masyarakatnya yang berkelanjutan.
Desa waimangoma Adalah desa strategis Dimana hotel-hotel terbaik dunia ada di desanya. Beliau membutuhkan Langkah trobosan sperti yang di kakukan yayasam rumah seni wanno dalam hal ini kristopel bili selaku ketua panitia pelaksana kegiatan festival mata wai Bersama rekan-rekan timnya. Tandasnya.
Ritual Pengkeramatan Mata Air Waitaengu
Fokus utama festival tahun ini adalah ritual pengkeramatan di Mata Air Waitaengu, yang berada di Kampung Adat Kadoku. Mata air ini dianggap sebagai “ibu kehidupan” bagi masyarakat Wanukaka dan sekitarnya karena menopang pertanian, irigasi, dan ketahanan pangan lokal.
Rato Ratewana, Kornelis Bili, menegaskan bahwa ritual pengkeramatan bukan sekadar tradisi, tetapi mekanisme adat yang tegas dalam menjaga alam.
“Barang siapa melanggar dan merusak hutan, Marapu menegur dengan hukum alam,” ujarnya mengingatkan.
Dorongan Ekonomi dan Pariwisata Berkelanjutan
Kepala Desa Weimangoma, Melkianus N. Nanga, optimistis bahwa festival ini menjadi terobosan strategis untuk meningkatkan perekonomian warganya. Desa Weimangoma dikenal sebagai lokasi beberapa hotel kelas dunia, sehingga kegiatan budaya dan ekowisata bisa memberi dampak besar bagi masyarakat.
Ritual pengkeramatan mata air, menurut Kristopel selaku ketua panitia festival, dapat mendorong terbentuknya ekowisata dan tata kelola irigasi yang mendukung petani untuk panen berkali-kali dalam setahun, meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi desa.
Merawat Air, Merawat Kehidupan
Melalui Festival Mata Wai, seluruh pemangku kepentingan berharap lahirnya kembali kesadaran kolektif untuk merawat alam, budaya, dan keseimbangan hidup di tanah Sumba.
“Air adalah sumber kehidupan. Menjaganya berarti menjaga masa depan kita,” tutup Kristopel Bili.
Editor : Rosihan Anwar