DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pengusaha Jamie McIntyre dan aktivitas pengembangan properti yang dipasarkan dengan merek Lux Projects Bali kembali menjadi sorotan setelah pernyataan dari mantan direktur perusahaan Indonesia yang terkait dengan proyek tersebut.
Christina Natalia, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur PT Bali Real Estate Investments, mengatakan bahwa ia memutuskan untuk berbicara secara terbuka setelah meninjau catatan keuangan internal serta dokumentasi perusahaan yang berkaitan dengan proyek pengembangan di Bali.
Menurut Natalia, PT Bali Real Estate Investments merupakan entitas hukum di Indonesia yang terkait dengan aktivitas pengembangan yang dipasarkan dengan merek Lux Projects Bali dan Lux Property Group.
Dalam industri pengembangan properti, praktik memasarkan proyek menggunakan merek tertentu cukup umum.
Sementara kontrak, pendanaan, dan kewajiban hukum biasanya dikelola oleh entitas perusahaan yang terdaftar secara resmi.
Namun, Natalia mengatakan bahwa peninjauan lanjutan terhadap catatan keuangan perusahaan memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai struktur operasional dan kondisi keuangan perusahaan selama periode pembangunan berlangsung.
Proyek vila skala kecil di Bali
Pengembangan yang terkait dengan Lux Projects Bali disebut Natalia sebagai proyek vila berskala relatif kecil yang berlokasi di Kerobokan, Bali, tepat di sebelah utara kawasan wisata Seminyak.
Gambar yang beredar secara online menunjukkan kondisi banjir di lokasi proyek saat terjadi hujan lebat, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa proyek tersebut mungkin dibangun di area yang rawan banjir. Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa lokasi konstruksi sempat ditutup oleh otoritas setempat, termasuk Satpol PP, sehingga aktivitas pembangunan dihentikan sementara.
Pengamat mencatat bahwa lokasi konstruksi dapat ditutup oleh otoritas apabila proyek menghadapi masalah kepatuhan terkait izin, zonasi, atau persyaratan regulasi lainnya.
Muncul sengketa dengan kontraktor
Proyek ini juga mendapat perhatian dalam pemberitaan media Australia. Laporan dari Channel 9 News menyoroti sengketa yang melibatkan kontraktor yang terkait dengan proyek di Bali tersebut.
Menurut laporan itu, para kontraktor mengklaim belum menerima pembayaran atas pekerjaan konstruksi yang telah mereka lakukan di lokasi proyek. Beberapa sengketa tersebut dilaporkan telah berkembang menjadi proses gugatan perdata di Indonesia.
Pakar konstruksi mengatakan konflik pembayaran dengan kontraktor dapat terjadi ketika proyek pengembangan menghadapi tekanan finansial atau mengalami keterlambatan pembangunan.
Catatan keuangan memunculkan pertanyaan
Natalia mengatakan bahwa selama menjabat sebagai direktur, ia meninjau dokumen keuangan perusahaan yang terkait dengan PT Bali Real Estate Investments.
Berdasarkan catatan tersebut, ia menyatakan bahwa perusahaan beroperasi dengan modal yang terbatas pada saat aktivitas pembangunan sedang berlangsung. Dokumentasi tersebut juga mencakup transaksi yang melibatkan pinjaman atau penarikan dana yang terkait dengan Jamie McIntyre.
Adapun Jamie McIntyre dalam sejumlah materi promosi menggambarkan dirinya sebagai seorang miliarder. Natalia mengatakan bahwa catatan keuangan yang telah ditinjau tampak tidak sejalan dengan klaim publik tersebut.
Menurut pernyataannya, rekening perusahaan pada beberapa periode menunjukkan saldo yang hanya berada pada kisaran ribuan dolar Australia, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan untuk secara mandiri membiayai kegiatan pengembangan proyek.
Diskusi Proyek di Lombok
Natalia juga menyinggung pembahasan terkait proyek pengembangan properti terpisah di Lombok.
Ia mengatakan bahwa Jamie McIntyre berupaya untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut melalui Corporate Share Purchase Agreement (CSPA) yang terkait dengan pengembangan kawasan terpadu (master-planned development) yang dikembangkan oleh Kinnara.
Meskipun keterkaitan dengan platform properti regional yang telah dikenal tersebut memberikan kredibilitas pada proyek, Natalia mengatakan bahwa kontribusi finansial yang diwajibkan dalam perjanjian tersebut tidak diselesaikan.
Ia juga mengklaim bahwa dokumentasi keuangan yang ia tinjau memunculkan pertanyaan mengenai apakah dana dari penjualan properti pada periode tersebut dialihkan untuk mendukung aktivitas konstruksi yang terkait dengan proyek di Bali, yang menurutnya saat itu menghadapi tekanan pendanaan serta kewajiban pembayaran kepada kontraktor.
Natalia mengatakan bahwa dokumentasi tersebut kini telah diserahkan kepada perwakilan hukum yang sedang meninjau perkara ini.***
Editor : M.Ridwan