Rentetan aksi kriminalitas sadis yang menyasar warga negara asing (WNA) dalam beberapa waktu terakhir menjadi alarm keras bagi keamanan di Pulau Dewata. Mulai dari pembunuhan tragis warga Belanda di Kerobokan hingga kasus memilukan rudapaksa dan pencurian terhadap turis Tiongkok di Pecatu pada Senin (23/3/2026) lalu, citra Bali sebagai destinasi aman kini berada di pertaruhan besar!
PERINGATAN itu disampaikan Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini.
Baca Juga: Pembunuhan Bule Belanda di Kerobokan Terencana, Eksekutor Rene Pouw Sempat Pantau Vila
Menurut tokoh asal Ubud ini, wisatawan tidak akan peduli siapa atau dari mana asal pelakunya; selama kejadian berlangsung di Bali, maka Bali-lah yang dicap tidak aman.
"Ini sangat mencederai dan mencoreng nama Bali yang dikenal ramah. Wisatawan tidak mau tahu pembunuhnya siapa, yang jelas kejadiannya di Bali. Jangan sampai mereka menilai Bali tidak aman lagi," tegas mantan Wakil Gubernur Bali ini, Kamis (26/3).
Sorotan pada Wilayah Terpencil dan Sistem Keamanan
Cok Ace menyoroti kerentanan di wilayah Bali Selatan, khususnya Uluwatu dan Kuta Selatan, di mana banyak vila mewah berlokasi di tempat terpencil. Ia mendorong pengelola akomodasi untuk meninggalkan sistem keamanan konvensional.
- Teknologi Nirkabel: Menyarankan penggunaan alarm wireless yang terhubung langsung ke polsek atau pusat pengamanan.
- Hindari Sistem Kabel: Belajar dari kasus di Ubud, sistem kabel sangat mudah diputus oleh pelaku kejahatan profesional.
Indikasi Celah Keamanan Pariwisata
Senada dengan Cok Ace, Anggota Komite III DPD RI Dapil Bali, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, melihat adanya celah kelemahan yang mulai dipelajari oleh sindikat kriminal. Ia mencatat rentetan kasus berat sejak 2025, mulai dari penembakan, mutilasi, hingga perampokan.
"Keamanan adalah faktor utama. Terjadi kriminalitas beruntun ini mengindikasikan adanya celah dalam sistem keamanan pariwisata kita," ujar mantan Wali Kota Denpasar tersebut.
Rai Mantra mengusulkan beberapa langkah konkret:
- Emergency Call: Sistem panggilan darurat yang cepat dan mudah diakses wisatawan.
- Layanan Proteksi: Jasa pelayanan antar bagi wisatawan yang berada dalam kondisi kurang sehat atau di bawah pengaruh alkohol di tempat hiburan malam.
- Pengawasan Ketat: Memperketat penyisiran identitas untuk mendeteksi pelaku kriminal profesional yang kerap menyamar sebagai turis.
Upaya Preventif atau Ekonomi Terancam
Peringatan tegas juga datang dari Ketua Komisi II DPRD Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih (Ajus Linggih). Politisi muda ini menekankan bahwa jika langkah preventif tidak segera diperkuat, ekonomi Bali yang bertumpu pada pariwisata akan ambruk.
"Penindakan harus tegas. Jika tidak, Bali akan dicap sebagai daerah pariwisata yang tidak aman, dan itu sangat berbahaya bagi masa depan ekonomi kita," pungkas Ajus Linggih.
Kini, bola panas ada di tangan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk segera mengembalikan rasa aman di tanah kelahiran para dewa ini sebelum kepercayaan dunia benar-benar luntur.[*]
Editor : Hari Puspita