Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dampak Konflik Timur Tengah, Okupansi Hotel di Bali Anjlok Kriminalitas Juga Jadi Sorotan, PHRI Bali Dorong Optimalisasi URC

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 6 April 2026 | 07:25 WIB
CANCEL: Beberapa tamu hotel sedang mengurus proses checkin di sebuah hotel di Bali. Okupansi akibat konflik perang hunian hotel anjlok. (istimewa/radarbali.id)
CANCEL: Beberapa tamu hotel sedang mengurus proses checkin di sebuah hotel di Bali. Okupansi akibat konflik perang hunian hotel anjlok. (istimewa/radarbali.id)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada perekonomian dunia, termasuk pariwisata di Bali. 

Sejak perang Isarel vs Iran bergulir, banyak wisatawan dari Timur Tengah membatalkan rencana liburan ke Pulau Dewata. Imbasnya, okupansi hotel menurun hingga tidak mencapai target.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menyampaikan, ketegangan tersebut berdampak langsung pada kunjungan dari warga Uni Emirat Arab (UEA).
Ia berharap ada upaya perdamaian dari semua pihak karena eskalasi konflik mengancam perekonomian global.

"Lihat saja harga minyak naik sampai 25 persen, ini yang membahayakan. Dunia harus prihatin. PBB harus bereaksi keras mengecam ini supaya tidak berlarut-larut karena berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga,"
ungkapnya menekankan, Minggu (5/4/2026).

Di sisi lain, muncul fenomena warga dari Timur Tengah maupun Amerika Serikat yang cenderung mencari perlindungan ke negara-negara Asia yang dianggap aman. Seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia,
khususnya Bali. Hal ini dikarenakan negara-negara tersebut menerapkan politik bebas aktif sehingga dinilai relatif aman.

Baca Juga: Ngeri! Pembuangan ke TPA Suwung Dibatasii, Sungai Dijamuri dan Dijejali Sampah Liar, Akibatnya Begini

"Bali menjadi salah satu tempat favorit yang dirasa paling aman. Mereka sedang mengoordinasikan bagaimana agar penerbangan bisa tetap sampai ke Bali dan mereka tinggal di Bali sampai perang usai," jelasnya.

Okupansi hotel di Bali biasanya bergantung pada lima hub besar, yakni Dubai, Arab Saudi, Abu Dhabi, Qatar, dan Doha. Namun, banyak wisatawan melakukan pembatalan karena perang Amerika Serikat-Israel dan Iran
ini.   

Harapannya, turis dari Eropa dapat mengerek jumlah  kunjungan ke Bali melalui pengalihan rute penerbangan via Taipei dan Tiongkok.

Meski dinilai kurang efektif karena harus transit dua kali dan
menambah durasi perjalanan hingga empat jam, hal ini tetap menjadi peluang.

Selain itu, wisatawan asal Australia diharapkan mengalihkan tujuan ke Bali dari yang semula berencana ke Timur Tengah.

"Bagi warga Australia, Bali merupakan second home. Ini bisa menolong okupansi kita yang saat ini sedang turun," imbuhnya.

Saat ini, kondisi tingkat hunian hotel cukup memprihatinkan. Banyak hotel yang okupansinya di bawah 50 persen. Target pada Maret yang semula dipatok 65 hingga 70 persen, nyatanya hanya terealisasi sekitar
55 persen.

"Kami closing di angka 55 persen untuk Bali. Bayangkan,
dari Uni Emirat Arab biasanya satu pesawat A 380  bisa mengangkut 600 hingga 700 penumpang," urainya.

Selain dampak global, aksi kriminalitas di Bali turut memberikan sentimen negatif terhadap citra pariwisata. Kasus seperti pemerkosaan hingga pembunuhan  yang membuat  keamanan di Bali dipertanyakan. PHRI
pun mengimbau pemilik akomodasi agar selalu mengingatkan tamu untuk tetap waspada.

"Pihak keamanan harus lebih intensif melakukan patroli
di area keramaian yang rawan gangguan kamtibmas dan kriminalitas," beber pria yang juga menjabat Ketua PHRI Badung tersebut.

Informasi negatif yang tersebar di media sosial harus segera direspons cepat. Rai menekankan pentingnya pembentukan Unit Reaksi Cepat (URC) yang melibatkan seluruh stakeholder.

Ia mengakui, jika wisatawan menjadi korban kejahatan, kabar tersebut akan menjadi berita buruk bagi keluarga korban yang merusak citra Bali di mata dunia.

"Dibutuhkan sistem reaksi cepat, salah satunya optimalisasi nomor darurat seperti 112," pungkasnya.***

Editor : M.Ridwan
#hunian hotel #phri bali #dampak perang #Konflik Israel dan Iran #okupansi hotel