MANGUPURA, radarbali.jawapos.com – Perayaan peringatan Hari Kartini setiap 21 April, ajang selancar khusus perempuan kembali digelar oleh Bagus Made Irawan, yang akrab disapa “Piping” di Pantai Kuta Minggu (19/4/2026).
Ciri khasnya mengenakan kebaya dan kain berselancar menaklukan ombak. Pemilik Magicwave sekaligus pencetus Kartini Go Surf ini konsisten menggelar acara ini sejak tahun 2010. Ia menyebut event tersebut merupakan wujud nyata cinta seorang anak kepada ibunya.
“Bagaimana seorang anak mencintai ibunya, itulah esensi dari acara ini,” ucap Piping yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Kartini Go Surf 2026.
Baca Juga: Jejak Kartini di Bumi Dewata: Ida Dewa Agung Istri Kanya, 'Wanita Besi' Pemimpin Pertempuran Kusamba
Surfing atau berselancar merupakan bagian krusial dalam industri pariwisata. Bali dikenal dunia karena keindahan ombak dan pantainya, sehingga menjadi magnet bagi para peselancar.
Piping membuktikan, surfing efektif dalam membuka potensi titik pariwisata baru. "Membuka tourism baru itu penting. Saya pernah membuat 'Pecahan Emerald', sebuah event surfing di Banyuwangi tahun 2013. Salah satu destinasinya adalah Pulau Merah (Pesanggaran, Banyuwangi). Dulu tempat itu tidak dikenal, tapi mantan Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, membukanya pada 2013-2015," kenangnya.
"Setelah itu, bupatinya menjadi Menteri, bahkan ada lima menteri yang datang berkunjung waktu itu. Jadi, ini lebih kepada pengembangan pesisir pantai untuk pariwisata,” ungkap Piping.
Sebagai sosok yang sangat peduli dengan olahraga menantang ini, khususnya di Bali, Piping mengaku bangga karena semakin banyak anak muda Pulau Dewata dan orang tua mereka yang mengenalkan olahraga ini sejak dini.
“Antusiasmenya luar biasa besar. Ada teman saya namanya Ferry, saya ajari dia 6 tahun lalu, tahun ini dia sudah bisa keber-keber (berselancar di ombak besar). Regenerasi ini sangat bergantung pada peran orang tua. Dan orang tua seperti Ferry ini memang luar biasa,” urainya.
Piping menegaskan bahwa Kartini Go Surf 2026 hadir untuk seluruh masyarakat dunia, khususnya Bali. Dibuka untuk publik seluas-luasnya, panitia menyediakan panggung bagi siapa pun yang ingin mencoba berdiri di atas papan selancar di Pantai Kuta.
“Kami buatkan panggungnya. Yang mau naik (berselancar), silakan. Yang tidak mau pun, tidak apa-apa,” tambahnya.
Terkait harapan di hari kelahiran Raden Ajeng Kartini—pahlawan nasional asal Jepara yang lahir pada 21 April 1879—Piping mengingatkan para pria agar selalu menghargai sosok perempuan.
“Mari mulai sadar bahwa kita, kaum lelaki ini, lahir dari rahim seorang perempuan,” pungkas Piping.***
Editor : M.Ridwan