DENPASAR, Radar Bali.id – Di tengah fluktuasi ekonomi global, bisnis akomodasi tipe guest house di Denpasar menunjukkan resiliensi yang luar biasa.
Baca Juga: Dampak Konflik Geopolitik, Harga Plastik Melonjak, Pedagang Menjerit Terpaksa Naikkan Harga Jualan
Meskipun sedang memasuki musim landai (low season), tingkat hunian rata-rata masih stabil di angka 60 persen, bahkan diprediksi melonjak hingga 100 persen saat musim liburan tiba.
Head of Strategic Hotel Acquisition RedDoorz, Leon Yapha, mengungkapkan bahwa segmen ini tergolong "tahan banting" terhadap isu geopolitik maupun masalah lingkungan seperti sampah.
Fokus pada Pelancong Bisnis
Berbeda dengan villa di kawasan wisata utama yang bergantung pada turis mancanegara, guest house di Denpasar lebih banyak menyasar pelancong bisnis dan wisatawan domestik.
"Isu perang Timur Tengah tidak berdampak karena segmentasi kami turis lokal. Tren di Denpasar saat ini sangat positif dan sudah pulih dibanding tahun lalu," kata Leon saat peresmian Urban View Noja Guest House, Kamis (7/5/2026).
Perang Melawan Stigma Negatif
Dalam kesempatan tersebut, Leon juga memberikan klarifikasi tegas terkait stigma negatif yang sering menerpa guest house sebagai tempat transaksi asusila.
Ia menjamin sistem aplikasi mereka memiliki filter untuk mencegah aktivitas ilegal.
"Kami sangat menolak tamu seperti itu. Kami menyediakan akomodasi yang bersih dan aman. Jika terdeteksi di aplikasi kami, pasti langsung kami tolak," tegasnya.
Optimisme Pemilik Properti
I Made Setiawan, pemilik Urban View Noja Guest House, menambahkan bahwa bergabung dengan jaringan manajemen hotel seperti RedDoorz memberikan nilai tambah besar. Ia optimistis standardisasi layanan dan optimasi pendapatan secara digital akan membuat bisnis properti miliknya berkelanjutan di pasar Bali yang kompetitif.[*]
Editor : Hari Puspita