Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cerita di Balik Pesona Pakaian Adat Sewaan di Penglipuran: Berawal dari Sekadar Gaya-gayaan, Eh Sekarang Malah Jadi Ladang Rezeki Warga

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Rabu, 20 Mei 2026 | 10:12 WIB
CEKREK! : Wistawan domestik ini sibuk bergaya dan berfoto ria dengan busana sewaan di Desa Wisata Penglipuran. (dewa ayu pitri arisanti/radar bali)
CEKREK! : Wistawan domestik ini sibuk bergaya dan berfoto ria dengan busana sewaan di Desa Wisata Penglipuran. (dewa ayu pitri arisanti/radar bali)

Bila Anda amati, saat ini begitu memasuki Desa Wisata Penglipuran, Bangli, kini tak ubahnya melihat "pergelaran busana" dadakan. Jangan kaget jika Anda berpapasan dengan rombongan wisatawan domestic maupun asing yang tampil anggun mengenakan kain songket, udeng, hingga payas (rias) Bali nan lengkap! Atau pura-pura bergaya foto prewedding!

IDENYA yang mahal. Fenomena ini bukan lahir dari aturan kaku pengelola desa, melainkan magnet budaya yang ditangkap cerdik oleh warga setempat.

Baca Juga: Kelar Nyepi, Desa Wisata Penglipuran Diserbu 4.000 Pengunjung Per Hari

Bagi para pelancong, mengenakan pakaian adat Bali di tengah desa terbersih di dunia ini adalah cara terbaik untuk "melebur" dengan atmosfer tradisi.

Berawal dari Utara, Kini Merata

Ni Komang Okta Viani,29, salah satu warga setempat, menuturkan bahwa jasa penyewaan pakaian adat ini sebenarnya sudah ada sejak lima tahun lalu. Namun, ceritanya dulu berbeda.

"Awalnya hanya warga di sisi utara yang menyediakan jasa ini karena pusat parkir ada di sana. Warga di bagian tengah dan selatan hanya bisa menonton," kenang Okta, Selasa (19/5/2026).

Nasib mulai berubah sekitar tiga tahun terakhir. Penataan ulang kantong parkir yang lebih merata membuat arus wisatawan mengalir hingga ke pelosok desa.

Kini, hampir setiap rumah di sepanjang jalur utama Penglipuran menawarkan jasa serupa. Ekonomi warga pun berdenyut lebih kencang.

Mengadu Peruntungan di Atas Lembaran Kain

Menyewakan busana adat bukan berarti tanpa tantangan. Dengan semakin banyaknya warga yang terjun ke bisnis ini, Okta mengaku pendapatannya kini sangat bergantung pada keberuntungan dan keramahan melayani tamu.

Pada hari baik, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp1 juta. Namun, ada kalanya ia harus gigit jari tanpa satu pun penyewa.

"Tarifnya bervariasi, mulai dari Rp50 ribu sampai Rp150 ribu, tergantung kualitas kainnya. Wisatawan boleh pakai sepuasnya tanpa batasan waktu. Jaminannya, pakaian harian mereka dititip di sini," jelas Okta.

Usaha ini biasanya mencapai "panen raya" saat libur sekolah, hari raya keagamaan, atau tanggal merah nasional. Target utamanya adalah wisatawan domestik yang haus akan pengalaman autentik.

Kebahagiaan dalam Selembar Kain

Salah satu yang terpikat adalah Fatimah. Wisatawan asal Makassar ini tampak sibuk berswafoto dengan latar rumah bambu khas Penglipuran. Baginya, merogoh kocek Rp50 ribu untuk satu set pakaian adat adalah harga yang sangat murah untuk sebuah kenangan sekali seumur hidup.

"Senang sekali bisa mencoba pakaian adat Bali. Ini pengalaman pertama saya. Rasanya lebih percaya diri dan makin cantik saat difoto," cetus Fatimah sembari tersenyum.

Di Penglipuran, pakaian adat kini bukan sekadar simbol ritual, melainkan jembatan yang menghubungkan rasa bangga warga akan budayanya dengan keinginan wisatawan untuk menjadi bagian dari cerita Bali—meski hanya untuk beberapa jam. [*]

Editor : Hari Puspita
#bisnis persewaan #bangli #desa wisata penglipuran #bali