NUSA DUA, radarbali.jawapos.com — Wisatawan global masa kini tidak lagi sekadar mencari pemandangan indah; mereka berburu pengalaman yang bermakna.
Menjawab tren tersebut, Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 resmi menempatkan gastronomi sebagai garda terdepan pariwisata Indonesia.
Mengusung tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage,” ajang pariwisata internasional ini menegaskan bahwa kuliner nusantara bukan lagi sekadar pelengkap perjalanan, melainkan magnet utama yang bernilai tinggi.
Semangat eksplorasi rasa ini langsung menghentak sejak malam pembukaan melalui konsep Megibung Nusantara Culinary.
Menggandeng Marriott Bonvoy dan The Westin Resort Nusa Dua, tradisi makan bersama khas Bali ini disulap menjadi panggung megah yang mengawinkan tradisi dengan kemasan elegan.
Keunikan gastronomi Indonesia yang lentur tersaji apik malam itu. Di satu sudut, hadir Seblak Bandung yang membawa energi dinamis street food perkotaan Jawa Barat. Di sudut lain, Nasi Campur Bali tampil memukau, memadukan identitas lokal dengan harmonisasi rasa dari berbagai daerah di Indonesia.
Artisan Lokal yang Naik Kelas
Gastronomi yang kuat lahir dari ekosistem yang sehat. BBTF 2026 secara cerdas mengintegrasikan produk minuman dan pangan lokal ke level premium:
- Modernisasi Minuman Tradisional: Arak Karangasem tampil memikat lewat Matahari Cocktail. Perpaduan tangerine, passion fruit, dan arak lokal ini menghasilkan rasa tropis yang segar sekaligus elegan.
- Artisan Wine Global: Sababay Winery memamerkan wine lokal Bali dengan pendekatan filosofi Prancis vin de garage. Winery yang dipimpin oleh perempuan ini membuktikan Bali mampu memproduksi wine berkarakter kuat.
- Kekayaan Komoditas Komunitas: Kehadiran Cokelat Jembrana, Jungle Pod, hingga Kopi Akasa Kintamani mempertegas bahwa gastronomi adalah rantai ekonomi yang menghubungkan petani, produsen, dan pelaku industri hospitality.
"Di balik sebuah hidangan, terdapat cerita tentang tanah, laut, rempah, tradisi, dan cara hidup masyarakat setempat. Inilah kekuatan Indonesia," ungkap Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana, di hari kedua BBTF 2026.
Melalui sesi Travex (pertemuan buyers dan sellers) serta program post-tour, BBTF 2026 mendorong produk gastronomi bergerak dari sekadar promosi menjadi paket wisata yang siap dijual.
Produk-produk seperti heritage dining, spice routes, kunjungan pasar tradisional, kelas memasak, hingga konsep farm-to-table kini dikemas menjadi daya tarik yang bernilai komersial tinggi.
Konsep Bali and Beyond tahun ini terasa semakin inklusif. Bali berperan sebagai pintu masuk untuk membuka ruang bagi daerah lain di nusantara guna memamerkan identitas kuliner mereka.
Ketua Panitia BBTF 2026, I Putu Winastra, S.AB, M.A.P., menjelaskan bahwa ajang tahun ini menjadi panggung kolosal bagi keragaman budaya Indonesia.
"Tahun ini kita menampilkan cerita dari 12 provinsi: Bali, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lombok/NTB, NTT, Sulawesi Utara, Papua, dan Lampung," ujar Putu Winastra.
Winastra menambahkan bahwa narasi rempah dan kuliner nusantara yang dihadirkan akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi gastronomi berbasis budaya dan pengalaman lokal di mata dunia.
Endingnya, BBTF 2026 mengirimkan pesan yang kuat kepada industri pariwisata global: Indonesia tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga sangat kaya untuk dirasakan, dipelajari, dan dicicipi keistimewaan masakan khasnya.***
Editor : M.Ridwan