Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Lokasi Wisata Langit Gelap di Bali, Nomor 7 Paling Kolosal

Dhian Harnia Patrawati • Minggu, 31 Mei 2026 | 12:33 WIB
Galaksi bima sakti di atas perbukitan Munduk, Buleleng, saat bulan mati (tilem).
Galaksi bima sakti di atas perbukitan Munduk, Buleleng, saat bulan mati (rahina tilem).

 

RADAR BALI - Secara formal, Bali belum memiliki kawasan yang dinobatkan secara resmi sebagai International Dark Sky Park oleh lembaga dunia seperti DarkSky International (IDSA).

Kendati demikian, sejumlah lokasi di Bali telah dikenal luas oleh wisatawan yang khusus datang untuk melihat berburu galaksi Bimasakti.

1. Kaldera Gunung Batur dan Kintamani (Bangli) 

Jika mencari lokasi terbaik untuk mengamati langit, dataran tinggi Kintamani adalah primadonanya. Area di sekitar kaldera purba, hamparan black lava, hingga puncak Gunung Batur merupakan spot stargazing yang sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara.

Karena posisinya yang tinggi di atas permukaan laut dan terhalang oleh dinding kaldera dari gemerlap lampu kota di Bali Selatan, langit di sini jauh lebih bersih.

Komunitas astronomi lokal maupun operator tur astrofotografi sering menggelar milky way hunting camp menggunakan teleskop profesional di kawasan ini.

2. Tulamben dan Amed (Karangasem)

Kawasan Bali Timur, terutama di sekitar lereng Gunung Agung hingga pesisir Tulamben dan Amed, juga menjadi titik favorit para pemburu langit gelap.

Wilayah ini minim pembangunan masif sehingga polusi cahayanya sangat rendah. Keunggulan melakukan stargazing di sini adalah Anda bisa mendapatkan latar belakang (foreground) berupa siluet megah Gunung Agung atau bayangan perahu jukung tradisional di tepi laut yang sangat estetis untuk fotografi malam.

3. Balangan dan Uluwatu (Badung)

Untuk kawasan Bali Selatan, beberapa titik tebing yang menghadap langsung ke Samudra Hindia masih menyisakan langit yang cukup gelap karena areanya yang terbuka ke laut lepas.

Lokasi seperti Tebing Balangan di Uluwatu atau Pantai Gunung Payung di Nusa Dua sering dimanfaatkan oleh penyedia jasa edukasi astronomi swasta di Bali untuk mengajak turis asing mengamati planet dan rasi bintang menggunakan teleskop terkomputerisasi.

4. Semenanjung Prapat Agung (Jembrana)

Ini adalah titik paling gelap di Bali. Karena statusnya sebagai kawasan konservasi hutan yang dilindungi, tidak ada lampu pemukiman di dalam area ini.

Langit malam di sini benar-benar pekat, menjadikannya lokasi favorit bagi para fotografer profesional dunia untuk menangkap galaksi Bimasakti secara vertikal dengan sangat kontras.

5. Pantai Perancak dan Pantai Yeh Leh (Jembrana)

Kawasan pesisir Jembrana yang menghadap ke selatan (Samudra Hindia) sangat bersih dari kilauan cahaya kota. Di Pantai Perancak, Anda bisa mendapatkan foreground berupa siluet perahu-perahu tradisional Bugis yang estetik di bawah taburan miliaran bintang.

6. Pantai Balian & Pantai Pasut (Tabanan)

Berbeda dengan pantai di Badung, pantai-pantai di Tabanan Barat ini relatif masih sepi akomodasi besar dengan lampu sorot makro. Pantai Balian yang terkenal di kalangan peselancar internasional juga menjadi titik favorit untuk melihat bintang karena bentangan langit selatannya langsung menghadap ke laut lepas tanpa polusi cahaya sama sekali.

7. Wisata Langit Gelap Global: Malam Hari Raya Nyepi

Meskipun bukan lokasi permanen, malam Nyepi di Bali adalah satu-satunya momen di dunia di mana seluruh aktivitas satu pulau penuh termasuk bandara internasional, transportasi, lampu jalan, dan jaringan internet benar-benar dipadamkan total selama 24 jam. 

Bagi para fotografer lanskap, astronom, dan wisatawan dunia, momen ini dianggap sebagai the ultimate dark sky experience.

Tanpa polusi cahaya buatan sedikit pun, langit Bali bertransformasi menjadi kubah hitam pekat yang memperlihatkan taburan bintang dan galaksi Bimasakti dengan sangat jelas menggunakan mata telanjang. Banyak turis asing yang sengaja memesan resor di Bali pada bulan Maret hanya untuk merasakan sensasi magis ini.

Jika Anda ingin melakukan wisata langit gelap atau berburu Milky Way di Bali di luar momen Nyepi, waktu terbaik adalah saat musim kemarau (antara bulan Juni hingga September) dan pastikan datang bertepatan dengan fase bulan mati (new moon) agar cahaya bulan tidak membiaskan keindahan bintang-bintang di langit.***

Editor : Ibnu Yunianto
#wisata langit gelap Bali #Spot Milky Way Bali #Astrofotografi Bali #Stargazing Bali #nyepi