Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

300 Dosen dan Mahasiswa ISI Bali Pentaskan Mahamredangga Kalpa di Peed Aya PKB 2026

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 9 Juni 2026 | 09:54 WIB


Seniman ISI Bali mempersiapkan pementasan di peed aya Pesta Kesenian Bali 2026 dan pementasan perdana di Art Center Bali pada 13 Juni 2026.
Seniman ISI Bali mempersiapkan pementasan di peed aya Pesta Kesenian Bali 2026 dan pementasan perdana di Art Center Bali pada 13 Juni 2026.

 

RADAR BALI – Institut Seni Indonesia Bali kembali dipercaya memegang peran sentral dalam upacara pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Seperti perhelatan tahun-tahun sebelumnya, kampus seni bergengsi ini akan bertindak sebagai penampil pembuka dalam prosesi Peed Aya atau Pawai Kesenian, agenda utama yang paling dinantikan oleh masyarakat dan wisatawan.

Rangkaian pembukaan PKB XLVIII dikemas apik dalam satu kesatuan linimasa budaya. Perayaan dimulai dengan pawai Peed Aya yang semarak pada siang hari mulai pukul 15.00 WITA.

Malamnya berlanjut pada malam harinya pukul 20.00 WITA hingga selesai di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, di Jalan Nusa Indah, Denpasar Timur. 

Panggung legendaris ini akan menjadi saksi Rekasadana (Pergelaran) Perdana PKB XLVIII, sebuah karya kolaborasi megah antara Sanggar Karawitan Bungan Dedari dengan ISI Bali.

Tidak tanggung-tanggung, sekitar 300 personel yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan ISI Bali dikerahkan secara totalitas. Mereka terlibat langsung, baik dalam barisan pawai Peed Aya maupun sebagai pendukung pementasan sendratari (drama tari) di panggung utama.

Rute Purwa Daksina dan Ketentuan Baru Kurator

Jalur atau rute pawai Peed Aya tahun ini dipusatkan di kawasan Niti Mandala Renon, Denpasar. Secara tradisi, rute pawai menggunakan konsep Purwa Daksina, yaitu iring-iringan berjalan searah jarum jam mengitari kawasan monumen dengan alur pergerakan sebagai berikut:

Titik Start / Persiapan: Para peserta pawai dari berbagai kabupaten/kota dan delegasi luar daerah akan mulai bersiap di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda (sisi timur Lapangan Renon).

Panggung Kehormatan: Prosesi pelepasan resmi dan atraksi utama di hadapan pejabat negara atau daerah berada di Jalan Raya Puputan, tepatnya di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi). Iring-iringan akan bergerak dari arah timur ke barat.

Titik Bubar / Finish: Setelah melewati panggung utama, pergerakan pawai akan mengalir ke arah barat menuju Jalan Kusuma Atmaja (area sekitar depan Kantor Kementerian Keuangan Wilayah Bali).

Untuk mengantisipasi kepadatan, area menonton kini dirancang lebih menyebar, seperti di sepanjang Jalan Raya Puputan (sisi selatan lapangan) dan sisi barat kawasan Renon (arah Jalan Kusuma Atmaja).

Berbeda dari tahun sebelumnya, kini penonton akan difasilitasi dengan tribun khusus agar barisan lebih tertib dan tidak masuk ke badan jalan saat atraksi dilakukan.

Selain fasilitas tribun, kurator PKB juga menetapkan sejumlah ketentuan baru demi meningkatkan kelancaran acara:

Pembatasan Waktu Atraksi: Setiap kontingen hanya diberi waktu maksimal 15 menit untuk tampil di depan panggung kehormatan. Pembatasan ini diterapkan agar acara setia pada konsep pawai yang bergerak, bukan pertunjukan panggung yang dipindah ke jalan, sekaligus mengantisipasi antrean panjang yang pada tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 22 menit per kontingen.

Ketentuan Narasi: Kontingen tidak lagi diizinkan menggunakan dalang sebagai penutur narasi selama pawai berlangsung.

Filosofi Mahamredangga Kalpa

Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 mengangkat tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, yang bermakna upaya memuliakan dan menyucikan jiwa manusia menuju kesempurnaan yang paripurna, jernih, dan suci.

Sesuai dengan tema tersebut, masing-masing daerah akan menampilkan garapan tari baru, karya tradisi atau kearifan lokal, serta atraksi tematik yang memukau.

Pemerintah Provinsi Bali sendiri akan menampilkan Tari Siwa Nataraja sebagai simbol PKB dengan atraksi tematik Maha Merdangga Kalpa yang digarap oleh ISI Bali. 

Mredangga (atau Mrdangga) dalam sastra kuno seperti Kakawin Bharatayudha merujuk pada instrumen kendang dua sisi berbahan kulit.

Dalam tradisi Bali, istilah ini sangat lekat dengan komponen gamelan prosesi besar yang dinamis, seperti karakter musik Bleganjur atau Adi Mredangga (ansambel perkusi besar khas Bali).

Dalam garapannya, ISI Bali memadukan ritme instrumen perkusi tradisional yang megah, seperti kendang dan rebana, dengan gerak koreografi teatrikal.

Kolaborasi ini melahirkan atmosfer prosesi ritual yang dinamis, agung, sekaligus sakral, yang dirancang khusus untuk menandai dimulainya pesta budaya terbesar di Pulau Dewata.

Sendratari Lubdaka: Refleksi Malam Penebusan Dosa

Memasuki malam hari, fokus perhatian penonton akan dialihkan ke Panggung Terbuka Ardha Candra untuk menyaksikan kisah Lubdaka.

Cerita alegoris Hindu yang sangat populer di Bali ini diadaptasi dari Kakawin Siwaratrikalpa karya Empu Tanakung, seorang sastrawan besar pada masa akhir Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15.

Secara harfiah, nama Lubdaka berarti seorang pemburu yang hidup dari hasil memanah binatang di hutan. Namun, di balik narasinya, kisah ini memuat esensi teologis mendalam mengenai malam penebusan dosa atau Hari Raya Siwaratri (Malam Siwa) yang selaras dengan semangat penyucian jiwa pada tema Atma Kerthi.

Pementasan ini akan menghidupkan kembali kisah ikonik sang pemburu miskin. Dikisahkan, setelah seharian gagal mendapatkan buruan dan terjebak kegelapan hutan yang penuh binatang buas, Lubdaka terpaksa bermalam di atas pohon bila (maja) di tepi danau.

Agar tidak terjatuh akibat kantuk, ia melakukan mati raga sepanjang malam dengan tetap terjaga (jagra) sambil memetik daun-daun bila satu per satu, lalu menjatuhkannya ke bawah.

Tanpa ia sabari, di bawah pohon terdapat sebuah Lingga (simbol Dewa Siwa). Daun-daun yang jatuh tepat di atas Lingga tersebut bertepatan dengan malam purwani tileming kapitu (malam bulan mati ketujuh), saat Dewa Siwa sedang melakukan yoga semadi demi keselamatan dunia.

Begadang dan ketidaksengajaan Lubdaka memetik daun dianggap sebagai bentuk pemujaan (asana) yang tulus.

Ketika Lubdaka wafat, rohnya sempat menjadi perebutan sengit antara pasukan Dewa Yama (Cikrabala) yang hendak menyeretnya ke neraka karena dosa-dosa berburu, dengan pasukan Dewa Siwa (Kingkara) yang menjemputnya ke surga.

Pada akhirnya, berkat pahala tapa brata di malam Siwaratri, Dewa Siwa mengampuni seluruh dosa Lubdaka dan membawanya ke Siwaloka.

Simbolisme Teatrikal di Panggung Ardha Candra

Melalui pergelaran rekasadana ini, ISI Bali dan Sanggar Karawitan Bungan Dedari tidak hanya menyuguhkan tontonan visual yang estetik, tetapi juga tuntunan spiritual yang kaya akan simbolisme:

Sosok Pemburu: Melambangkan sifat dasar manusia yang selalu memburu keinginan duniawi dan hawa nafsu tanpa henti.

Hutan Gelap: Menyimbolkan kehidupan duniawi yang kerap diselimuti kegelapan pikiran (avidya atau kebodohan).

Begadang (Jagra): Menjadi simbol kesadaran batin, mengingatkan manusia untuk selalu waspada dan "terbangun" dari kegelapan moral agar terhindar dari dosa.

Memetik Daun Bila: Daun bila yang berlekuk tiga melambangkan Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata, dan berbuat yang baik). Proses memetik satu per satu melambangkan evaluasi dan penyucian diri yang harus dilakukan manusia secara terus-menerus.***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#pawai pembukaan pkb #Peed Aya PKB 2026 #rute pembukaan PKB 2026 #jadwal PKB 2206 #pesta kesenian bali