KINTAMANI, Radar Bali .id– Menjelang Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (17/6/2026), umat Hindu di seluruh Bali mulai disibukkan dengan berbagai persiapan adat.
Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah pembuatan dan pemasangan penjor megah yang biasa menghiasi depan rumah warga.
Namun, pemandangan deretan penjor indah yang biasanya berjejer rapi di sepanjang jalan utama Desa Wisata Penglipuran, Bangli, dipastikan tidak akan terlihat pada perayaan Galungan kali ini.
Baca Juga: Nah! Jelang Galungan Dekat, Harga Cabai Rawit di Karangasem Ngamuk Tembus Rp 90 Ribu
Pihak desa adat memutuskan untuk tidak melaksanakan pemasangan penjor di seluruh lingkungan pemukiman.
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan dan rasa duka mendalam atas berpulangnya salah satu warga Desa Adat Penglipuran baru-baru ini. Karena situasi desa masih dalam masa berkabung (kedukaan), warga sepakat untuk meniadakan simbol kemeriahan tersebut.
”Keputusan tersebut merupakan wujud nyata dari nilai kebersamaan, rasa empati, dan solidaritas sosial yang senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran,” terang Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa saat dikonfirmasi pada Senin (15/6/2026).
Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat di Penglipuran, konsep suka duka dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, seluruh warga desa dengan sukarela memilih menghormati kondisi batin keluarga yang sedang berduka ketimbang menonjolkan estetika hari raya.
”Sebagai salah satu desa wisata yang dikenal luas karena komitmennya dalam menjaga kelestarian budaya dan tradisi, Desa Penglipuran terus berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian adat, kehidupan sosial masyarakat, dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,” imbuh Sumiarsa.
Meskipun tanpa hiasan penjor yang ikonik, Sumiarsa memastikan bahwa aktivitas pariwisata di Desa Wisata Penglipuran tetap dibuka normal saat Hari Raya Galungan besok lusa.
Wisatawan tetap diperbolehkan berkunjung dan menikmati keasrian arsitektur desa, sekaligus menyaksikan langsung bagaimana kuatnya rasa solidaritas sosial yang hidup di tengah masyarakat setempat.[*]
Editor : Hari Puspita