Hamparan laut di Pantai Cupel, Desa Cupel, Kecamatan Negara, berubah menjadi arena adu nyali para nelayan pada Minggu, 26 Juli 2026 (26/7/2026) sore. Sebanyak 32 jukung layar saling berpacu membelah ombak Selat Bali dalam ajang balap jukung tradisional yang menjadi agenda utama Festival Masjid Bali 2026.
ADA ribuan pasang mata memadati bibir pantai sejak siang hari. Sorak-sorai penonton riuh mengiringi keberangkatan para peserta yang sepenuhnya mengandalkan hembusan angin untuk membawa perahunya melaju menuju garis finis.
Baca Juga: Heboh! Peserta Lomba Jukung Lawan Angin dan Arus
Tanpa sapuan mesin, kecepatan mutlak ditentukan oleh ketangkasan membaca arah angin serta kelihaian mengendalikan layar di tengah terpaan gelombang.
Peserta tidak hanya datang dari pesisir Jembrana, mulai dari Air Kuning hingga Gilimanuk. Sejumlah nelayan tangguh asal Jawa Timur pun turut meramaikan persaingan, menjadikan lomba yang memasuki penyelenggaraan tahun keempat ini kian kompetitif.
Ketua Panitia Festival Masjid Bali 2026, Ahmad Arif Dermawan, 42, menjelaskan bahwa setiap jukung diawaki oleh dua orang nelayan. Mereka wajib menempuh lintasan sejauh lebih dari enam kilometer ke tengah laut, memutari pelampung penanda, lalu kembali melesat menuju pantai.
”Siapa yang paling cepat menyelesaikan lintasan berhak membawa pulang gelar juara. Total ada 32 jukung yang berlomba tahun ini,” ujar Ahmad Arif.
Menurut Ahmad Arif, Festival Masjid Bali tak sekadar menyajikan ketegangan balap jukung layar. Berbagai gelaran menarik seperti pawai nelayan tempo dulu hingga bazar UMKM turut digelar untuk memeriahkan peringatan Tahun Baru Islam sekaligus menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di tengah laut, persaingan sengit berlangsung tak mudah. Tingginya gelombang Selat Bali menjadi ujian berat. Para peserta dituntut menjaga keseimbangan jukung secara ekstra agar tak kehilangan kendali saat dihantam gelombang maupun hempasan angin kencang.
Dani Ariyansyah, 35, salah seorang peserta, mengakui ganasnya perairan Selat Bali sore itu. ”Yang paling berat memang menghadapi ombak. Butuh tenaga ekstra dan kondisi jukung yang benar-benar prima supaya bisa menembus gelombang,” ungkap Dani.
Panitia telah menyiapkan hadiah uang pembinaan beserta piala bergilir bagi para pemenang. Namun bagi para nelayan pesisir, ajang ini lebih dari sekadar mengejar piala. Balap jukung layar merupakan tradisi leluhur yang terus dirawat sebagai identitas masyarakat pesisir Jembrana, sekaligus aset daya tarik wisata budaya yang potensial memikat wisatawan ke Pantai Cupel. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali