BANGLI, Radar Bali.id – Kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Penglipuran pada triwulan I dan II masih terbilang stabil di angka 2.000 hingga 2.500 orang per hari.
Baca Juga: Ini Cara Gratis Wisata ke Desa Penglipuran di Bangli dari Denpasar
Meski kunjungan wisatawan secara umum ke Bali mengalami penurunan pada Semester I, tren positif kunjungan ke Penglipuran pada Agustus 2026 ini diperkirakan tetap bertahan di kisaran 2.000-2.500-an wisatawan, per hari.
Berbagai kegiatan telah dirancang untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke destinasi favorit tersebut, mulai dari gelaran olahraga, atraksi seni, hingga festival.
Namun, khusus memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia, pihak Desa Wisata Penglipuran memutuskan tidak menggelar kegiatan khusus. Hal ini disebabkan adanya serangkaian ritual keagamaan yang sedang dijalani warga desa adat setempat.
Baca Juga: Geliat Wisata Penglipuran, Bangli: Promosi Tetap Getol Dilakukan Meski Telah Terkenal
”Karena anak-anak muda masih fokus pada persiapan upacara, jadi untuk HUT tidak ada perayaan khusus di Penglipuran,” ungkap I Wayan Sumiarsa, Ketua Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Penglipuran.
Bahkan pada Minggu (6/9/2026), operasional Desa Wisata Penglipuran akan ditutup total untuk seluruh aktivitas kunjungan wisata.
Baca Juga: Agenda Lengkap Penglipuran Village Festival 2026: Intip Jadwal Parade Gebogan dan Tari Kolosal
Penutupan sementara ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan Upacara Melasti, yang merupakan bagian dari rangkaian Karya Mamungkah Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan di Pura Dalem Pelapuan Desa Adat Penglipuran.
Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, menegaskan bahwa seluruh rangkaian upacara merupakan kegiatan keagamaan sakral yang melibatkan partisipasi penuh seluruh krama Desa Adat Penglipuran.
”Sehubungan dengan pelaksanaan karya tersebut, serta untuk menjaga kesucian, kekhusyukan, keamanan, ketertiban, dan kenyamanan seluruh rangkaian upacara, Desa Wisata Penglipuran akan menutup sementara seluruh aktivitas kunjungan wisata pada Minggu (6/9/2026),” jelas I Wayan Budiarta.
Sebagai desa wisata berbasis budaya, Budiarta menekankan bahwa Penglipuran senantiasa memegang teguh prinsip bahwa pelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai spiritual merupakan fondasi utama dalam pengelolaan destinasi.
Penutupan sementara ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan upacara adat sekaligus upaya menjaga kekhidmatan prosesi keagamaan yang menjadi bagian dari identitas Desa Adat Penglipuran. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali