DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli kembali meneguhkan posisinya sebagai kiblat pariwisata berkelas dunia. Selain Desa Wisata terbaik, Penglipuran juga dinobatkan sebagai Desa Terbersih Dunia bersama Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India.
Tapi sekarang bukan lagi sekadar mempertahankan status sebagai salah satu desa terbersih di dunia melalui konsep sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan), Penglipuran kini melangkah lebih jauh menuju era baru: Pariwisata Regeneratif (Regenerative Tourism).
Lompatan paradigma ini menjadi inti dari kajian doktoral mendalam yang digagas oleh Trisno Nugroho, pemerhati ekonomi dan pariwisata Bali (mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali).
Berjudul, "Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali", riset ini menawarkan cetak biru (blueprint) bagaimana industri pelesiran modern tak hanya menahan kerusakan, tetapi secara aktif memulihkan dan menghidupkan kembali alam serta budaya lokal.
Menurutnya, jika sustainable tourism berprinsip do no harm (tidak merusak), pariwisata regeneratif menuntut dampak positif yang nyata dan terukur (giving back). Dalam model ini, setiap rupiah yang dibelanjakan dan setiap jejak langkah wisatawan di Penglipuran dirancang untuk memperbarui ekosistem, memperkuat komunitas, dan merawat tradisi.
"Pariwisata tidak boleh lagi menempatkan desa adat hanya sebagai objek atau panggung pertunjukan. Desa adat harus menjadi subjek penentu yang mengarahkan ke mana arah pembangunan pariwisata itu berjalan," papar Trisno dalam kajian tersebut.
Empat Pilar Formula Regeneratif Penglipuran
Model riset yang disusun bekerjasama dengan akademisi Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Sunarta, ini memetakan empat pilar utama transformasi Penglipuran:
- Ekosistem Alam yang Memulihkan Diri: Perlindungan total hutan bambu sebagai paru-paru desa, penguatan tata kelola sampah mandiri berbasis TPS3R, serta komitmen ketat penekanan sampah plastik sekali pakai.
- Resiliensi Adat dan Budaya: Penguatan kelembagaan Desa Adat sebagai benteng utama pertahanan nilai-nilai local genius, memastikan tatanan sosial warga tidak tergerus oleh komersialisasi masif.
- Edukasi Generasi Muda (Regenerative Heritage): Pelibatan aktif anak muda lokal dalam menjaga seni arsitektur tradisional (undagi bambu) dan tata ruang desa, sehingga warisan leluhur terus beregenerasi secara alamiah.
- Manajemen Overtourism Berbasis Digital: Penguatan UMKM melalui pembayaran non-tunai (QRIS) serta gagasan reservasi kunjungan secara online untuk mengatur alur wisatawan agar tidak menumpuk pada jam sibuk, menjaga kenyamanan warga dan pengunjung.
Inspirasi untuk Pariwisata Masa Depan
Hasil riset ini memberikan pesan kuat bagi industri pariwisata global: keberlanjutan saja tidak lagi cukup di tengah ancaman krisis iklim dan overtourism.
Penglipuran membuktikan bahwa dengan menjadikan kearifan lokal sebagai nahkoda dan teknologi sebagai pendorong, pariwisata justru bisa menjadi alat pemulihan bumi dan kebudayaan.
Dalam disertasinya, Trisno menawarkan pendekatan pariwisata regeneratif. Konsep ini tidak hanya berbicara mengenai upaya mempertahankan kondisi destinasi, tetapi bagaimana pariwisata justru mampu mendorong destinasi menjadi lebih baik.
“Kalau regenerasi itu membuat lebih baik. Tetap ada wisatawan, tetapi lingkungan menjadi baik lagi, budayanya terus berkembang, anak-anak juga terus meneruskan di situ, kemudian masyarakatnya juga menikmati wisatawan itu,” ujar mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Bali ini.
Menurutnya, keberadaan wisatawan bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Aktivitas pariwisata tetap dapat berjalan, tetapi harus dikelola dengan pendekatan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.
Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam menentukan masa depan destinasi.
“Wisatawan itu masyarakat menjadi subjeknya, menjadi pelakunya, bukan menjadi objek. Masyarakatlah yang harus paham, tahu dan terlibat memberikan arah ke mana Penglipuran ke depannya,” katanya.
Masyarakat Penglipuran kata Trisno, memiliki pengetahuan lokal yang menjadi modal penting dalam pengembangan destinasi.
Sejarah, adat, budaya, gotong royong dan kehidupan sosial yang diwariskan antargenerasi yang tak tergantikan.
Trisno bahkan menjawab pertanyaan Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati, M.S., M.M., M.Mis., D.Th., Ph.D., D.Ag., tentang pendekatan pentahelix bahkan hektahelix terkait keterlibatan media dalam mengaselerasi hasil penelitiannya.
"Kami ada grup media Penglipuran yang anggota medianya 50 lebih, jadi keterlibatan media dalam peneltian ini nyata Prof," terang Trisno, sambil meminta media angkat tangan.***
Editor : M.RidwanSumber : radarbali.jawapos.com