Bangga! Desa Penglipuran masuk 53 desa terindah versi Condé Nast Traveller 2026

Febiano • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:58 WIB
Pemandangan rumah di Desa Penglipuran
Pemandangan rumah di Desa Penglipuran

BANGLI, radarbali.jawapos.com – Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, kembali mendapat perhatian dunia internasional. Desa adat yang dikenal dengan kebersihan, keunikan arsitektur, dan kelestarian budayanya ini masuk dalam daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World versi majalah perjalanan internasional Condé Nast Traveller.

Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi atas perhatian media internasional terhadap Desa Penglipuran.

“Bagi kami, masuknya Desa Penglipuran dalam daftar 53 desa dan kota kecil terindah di dunia versi Condé Nast Traveller merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan,” ucapnya.

Pengakuan tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Desa Adat Penglipuran sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pariwisata budaya yang memiliki daya tarik kelas dunia.

Keindahan Penglipuran tidak hanya terletak pada panorama alamnya, tetapi juga pada kehidupan masyarakat adat yang secara turun-temurun menjaga keharmonisan antara manusia, budaya, dan lingkungan.

“Salah satu keunikan Penglipuran adalah penerapan filosofi tata ruang Tri Mandala, yang membagi kawasan desa menjadi tiga bagian, yaitu Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala,” tambahnya.

Konsep ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual, sosial, dan lingkungan.

Menurutnya, keberhasilan Penglipuran mempertahankan daya tariknya hingga dikenal dunia tidak terlepas dari komitmen masyarakat adat dalam menjaga nilai-nilai filosofi Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

Menuju Pariwisata Regeneratif: Desa Harus Lebih Baik karena Pariwisata

Pengakuan internasional ini juga menjadi momentum bagi Desa Wisata Penglipuran untuk semakin memperkuat visinya menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif (Regenerative Tourism).

Melalui pendekatan tersebut, keberhasilan pariwisata tidak lagi hanya diukur berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan atau pendapatan yang dihasilkan, tetapi juga dari manfaat nyata yang diberikan kepada lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

“Lingkungan harus semakin terawat, budaya semakin kuat, masyarakat semakin sejahtera, dan wisatawan mendapatkan pengalaman yang semakin berkualitas. Inilah makna pariwisata regeneratif yang ingin kami wujudkan di Penglipuran,” jelas Wayan Sumiarsa.

Wisatawan Diajak Menjadi Bagian dari Kehidupan Desa

Penglipuran juga terus mengembangkan pengalaman wisata yang lebih autentik dan edukatif. Wisatawan diajak merasakan berbagai pengalaman budaya seperti menyaksikan pertunjukan Barong Macan, belajar membuat loloh atau minuman herbal tradisional Bali, melukis di atas bambu, menikmati kuliner khas Penglipuran, hingga membeli produk kerajinan masyarakat menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman wisatawan.

“Kami ingin wisatawan pulang membawa lebih dari sekadar foto dan kenangan indah. Kami berharap mereka membawa pengalaman tentang bagaimana masyarakat hidup harmonis dengan alam dan budaya. Kami juga ingin setiap kunjungan memberikan manfaat positif bagi desa dan masyarakat,” ungkap Wayan Sumiarsa.

Mengundang Dunia untuk Mengenal Penglipuran Lebih Dekat

Pengakuan ini sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat dan pengelola untuk terus meningkatkan kualitas destinasi, menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, serta mengembangkan inovasi wisata yang tetap menghormati nilai-nilai tradisional.

Penghargaan dan pengakuan dunia yang diberikan kepada desa Penglipuran bukanlah tujuan akhir, melainkan tanggung jawab untuk terus menjaga Penglipuran.

“Karena pariwisata yang berhasil bukan hanya membuat wisatawan bahagia, tetapi juga membuat desa dan masyarakatnya memiliki masa depan yang lebih baik,” tutupnya.

Editor : Rosihan Anwar
desa wisata penglipuran