Fenomena perayaan Kelulusan dengan berpesta dan corat-coret pakaian sekolah lanjut naik sepeda motor keliling dengan kebebasan yang seperti merdeka dari penjajahan. Bahkan, beberapa melanggar ketertiban umum dan lalu lintas.
"Sikap dan tindakan yang seperti tersebut sudah rutin terjadi dan jadi fenomena setiap tahun kelulusan anak-anak," terangnya.
Menurutnya, perayaan seperti tersebut sangat potensial menjadi sumber kekerasan terhadap anak yang salah satunya kekerasan fisik. Seperti bisa kecelakaan lalu lintas atau tawuran antar anak-anak sebagai pelajar.
"Bahkan juga bisa berpotensi muncul masalah kekerasan seksual akibat potensi ada minum-minum dan lain-lainnya," ucapnya.
Berbagai pengalaman kasus kekerasan sudah pernah terjadi saat fenomena hari-hari seperti minggu ini. Berbagai upaya sebenarnya juga sudah dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari sekolah, orang tua dan pemerintah untuk mencegah perayaan yang berlebihan. Seperti saat pengumuman kelulusan dengan melakukan persembahyangan, kelulusan dengan surat atau bentuk lainnya agar tidak ada potensi yang melanggar norma dan berpotensi kekerasan terhadap anak kedepannya.
Aparat kepolisian juga sudah melakukan razia dan membubarkan anak-anak melakukan konvoi atau kumpul-kumpul. "Masalah fenomena seperti tersebut sudah berkurang baik secara kuantitas maupun kualitas tingkat tingkah laku yang tidak baiknya. Tetapi semua tetap harus berupaya lebih keras dan koordinatif untuk menemukan strategi yang lebih tepat dengan sinergi yang lebih kuat dengan berbagai pihak," paparnya.
Mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat termasuk aparat penegak hukum kepolisian bekerja untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Bila diperlukan agar melibatkan para pecalang desa adat setempat dan kepolisian untuk memantau dan membubarkan jika ditemukan anak-anak yang sudah melakukan kegiatan kelulusan yang berpotensi menjadi sumber kekerasan dan pelanggaran hukum lainnya. (feb/rid) Editor : M.Ridwan