Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pesta Kelulusan SMA dengan Konvoi Mengendarai Motor, KPPAD: Ada Potensi Terjadi  Kekerasan

M.Ridwan • Sabtu, 6 Mei 2023 | 11:00 WIB
RAWAN KEKERASAN: Sejumlah siswa melakukan aksi corat-coret seragam sekolah saat usai pengumuman kelulusan sekolah level SMA. Sebagian melakukan konvoi. Foto: Adrian Suwanto/Radar Bali
RAWAN KEKERASAN: Sejumlah siswa melakukan aksi corat-coret seragam sekolah saat usai pengumuman kelulusan sekolah level SMA. Sebagian melakukan konvoi. Foto: Adrian Suwanto/Radar Bali
DENPASAR,radarbali.id - Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) masih merayakan kelulusan dengan konvoi motor.  Tampak pemandangan, Jumat kemarin (5/5). Mereka mengenakan putih abu-abu yang dicoret-coret.  Anggota Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, Made Ariasa menyoroti fenomena perayaan kelulusan SMA. "Ini adalah hari-hari yang penuh keceriaan dan kepuasan bagi anak-anak sebagai siswa di berbagai satuan pendidikan/ sekolah SMA/ SMK di kab kota se- Bali," ucap Pria asal Gianyar ini.

Fenomena perayaan Kelulusan dengan berpesta dan corat-coret pakaian sekolah lanjut naik sepeda motor keliling dengan  kebebasan yang seperti merdeka dari penjajahan. Bahkan, beberapa melanggar ketertiban umum dan lalu lintas.

"Sikap dan tindakan yang seperti tersebut  sudah rutin terjadi dan jadi fenomena setiap tahun kelulusan anak-anak," terangnya.
Menurutnya, perayaan  seperti tersebut  sangat potensial menjadi sumber kekerasan terhadap anak yang salah satunya kekerasan fisik. Seperti bisa kecelakaan lalu lintas atau tawuran antar anak-anak sebagai pelajar.

"Bahkan juga bisa berpotensi muncul masalah kekerasan seksual akibat potensi ada minum-minum dan lain-lainnya," ucapnya.

Berbagai pengalaman kasus kekerasan sudah pernah terjadi saat fenomena hari-hari  seperti minggu ini. Berbagai upaya sebenarnya juga sudah dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari sekolah, orang tua dan pemerintah untuk mencegah  perayaan yang berlebihan.   Seperti saat pengumuman kelulusan  dengan melakukan persembahyangan, kelulusan dengan  surat atau bentuk lainnya agar tidak ada potensi yang melanggar norma dan berpotensi kekerasan terhadap anak kedepannya.

Aparat kepolisian juga sudah melakukan razia dan membubarkan anak-anak melakukan konvoi atau kumpul-kumpul. "Masalah fenomena seperti  tersebut sudah berkurang baik secara kuantitas maupun kualitas tingkat tingkah laku yang tidak baiknya. Tetapi semua tetap harus berupaya lebih keras dan koordinatif untuk menemukan strategi yang lebih tepat dengan  sinergi yang lebih kuat dengan berbagai pihak," paparnya.

Mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat termasuk aparat penegak hukum kepolisian bekerja untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Bila diperlukan agar melibatkan para pecalang desa adat setempat dan kepolisian untuk memantau dan membubarkan jika ditemukan anak-anak yang sudah melakukan kegiatan kelulusan yang berpotensi menjadi sumber kekerasan dan pelanggaran hukum lainnya. (feb/rid) Editor : M.Ridwan
#konvoi kendaraan #corat-coret seragam #pesta kelulusan sekolah #kppad bali #Dinas Pendidikan Provinsi Bali