Data yang dirilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga November 2020 tercatat di Indonesia sebanyak 95.893 kasus. Tersebar di 472 kabupaten/kota di 34 provinsi.
Berdasarkan penggolongan jenis kelamin diperoleh bahwa laki-laki (53,11%) lebih banyak terinfeksi DBD dibandingkan perempuan (46,89%). Sedangkan, dari kategori usia, 3 urutan usia tertinggi yang paling sering terkena DBD yaitu usia 14 - 44 tahun (37,45%), usia 5 – 14 tahun (33,97%) dan usia 1 – 4 tahun (14,88%). Adapun prevalensi kematian akibat DBD paling banyak ditemui pada usia 5 – 14 tahun (34,13%) dan diikuti oleh usia 1 – 4 tahun (28,57%) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020)
Kejadian DBD yang terjadi di Bali merupakan angka tertinggi di Indonesia yang tercatat mengalami peningkatan pada periode tahun 2010 – 2016 dan mengalami penurunan pada tahun 2017 dan 2018. Adapun ledakan kasus DBD terjadi pada tahun 2015 dan 2016 dimana setiap 100,000 penduduk ditemukan 125-200 kasus DBD baru.
Secara keseluruhan kasus DBD baru yang terlaporkan sejak tahun 2010 sampai dengan 2018 sejumlah 55,215 kasus, dengan rata – rata pada setiap 100,000 penduduk terdapat 195 kasus baru. Dari 9 kabupaten yang ada di wilayah Provinsi Bali, Denpasar dan Badung seringkali memiliki jumlah kejadian per 100,000 populasi tertinggi (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2017).
Penggunaan antinyamuk merupakan tindakan yang praktis dan ekonomis untuk mencegah penyakit-penyakit yang dibawa oleh nyamuk ke manusia. Namun, kebanyakan formula produk antinyamuk yang beredar di pasaran mengandung DEET (N,N-dietil-meta-toluamid).
DEET menempel pada kulit selama 8 jam (tidak larut dalam air) serta terserap secara sistemik ke tubuh melalui kulit menuju sirkulasi darah, hanya 10-15% yang dapat terbuang melalui urin. Penggunaan DEET dengan konsentrasi yang tinggi dilaporkan banyak memiliki efek samping seperti gejala hipersensitifitas, iritasi dan urtikaria.
Setelah penggunaan yang berulang dan dalam jangka waktu lama, absorbsi melalui kulit dapat menyebabkan keracunan sistemik serta mengganggu kualitas dan keseimbangan lingkungan hidup akibat adanya residu, timbulnya resistensi pada hewan sasaran (Novizan, 2002).
Menyikapi masalah ini, dilakukan Pengabdian Masyarakat berupa Sosialisasi Pencegahan Demam Berdarah dan Edukasi Manfaat Sediaan Spray Antinyamuk dari Bunga Gumitir sebagai Repellent kepada Siswa-Siswi SMP Saraswati 1 Denpasar (6/5/2023).
Ketua Pelaksana, apt I Gusti Agung Ayu Kusuma Wardani, S.Farm., M.Si. yang sekaligus sebagai pembicaramenekankan pencegahan demam berdarah dan edukasi manfaat sediaan spray antinyamuk sebagai repellent berbahan dasar herbal dari bunga gumitir (Tagetes erecta L. ).
Disebutkan, pengabdian masyarakat ini melibatkan tim dosen dari Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar diantaranya Dr. apt. Ketut Agus Adrianta, S.Farm., M.biomed dan apt. Ni Nyoman Wahyu Udayani, S.Farm., M.Sc.
Selain itu, melibatkan mahasiswa dari Prodi S1 Farmasi dan D3 Farmasi dengan total 8 mahasiswa. “Kegiatan pengabdian juga diisi dengan simulasi pembuatan spray anti nyamuk,” ujar I Gusti Agung Ayu Kusuma Wardani, dalam siaran pers-nya (8/5/2023)
Selama kegiatan berlangsung, peserta yang merupakan pelajar SMP ini sangat antusias, bahkan siswa berharap berlanjut dengan produk kesehatan lainnya karena DBD masih menjadi ancaman serius dan acap mematikan setiap musim. (feb/rid) Editor : M.Ridwan