Sebuah komunitas di Desa Pedawa, yakni Pondok Literasi Sabih menggandeng anak-anak di wilayah itu untuk kembali menggeluti permainan tradisional. Apalagi ada banyak permainan rakyat yang lestari di desa tersebut.
DUA orang anak-anak, usianya sekitar delapan tahun, tengah bermain suit. Salah seorang diantaranya menang. Mereka kemudian mengambil biji kemiri yang dikantongi. Anak yang kalah meletakkan biji kemiri di tanah. Sementara anak yang menang suit harus melempar biji kemiri, hingga mengenai kemiri yang lebih dulu ada di atas tanah.
Anak-anak lain yang menyaksikan “pertandingan” itu pun bersorak memberikan semangat. Begitu biji kemiri beradu, mereka langsung bersorak dan bertepuk tangan. Itu adalah salah satu potret permainan tradisional di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar. Yakni permainan megebug tingkih.
Permainan-permainan itu digali oleh komunitas Pondok Literasi Sabih. Komunitas yang berbasis di Pedawa ini memang fokus dalam pelatihan bahasa dan pelestarian tradisi dan budaya khas Pedawa.
Pada masa libur sekolah kali ini, komunitas itu menggali dan melestarikan lagi permainan rakyat di Pedawa. Selain megebug tingkih, ada beberapa permainan lain. Seperti micet, metembing tingkih, mesimbar, metembing karet, metembing pis bolong, dan lainnya.
“Permainan ini kami kenalkan agar anak-anak tidak terlalu lama larut dengan permainan di gadget. Kalau di gadget permainan lebih banyak individual dan pasif gerak. Tapi kalau permainan tradisional, bisa dilakukan dalam tim dan membuat anak-anak lebih aktif bergerak,” kata Pendiri Komunitas Pondok Literasi Selabih, I Wayan Sadyana, Sabtu (17/6/2023).
Menurutnya permainan berbasis teknologi cukup menarik. Namun permainan tradisional juga tak kalah asyik. Komunitasnya sengaja mendorong anak-anak kembali ke permainan tradisional, agar ada lebih banyak interaksi. Apalagi permainan rakyat itu nyaris terlupakan.
“Kami ingin melakukan revitalisasi dan membangkitkan kembali permainan tradisional anak Desa Pedawa, sekaligus memasyarakatkan lagi di kalangan anak-anak,” ujarnya.
Untuk tahap awal, permainan-permainan itu baru dikenalkan pada anak-anak yang bergiat di komunitas. Para pegiat juga mulai melakukan pencatatan dan dokumentasi terhadap permainan tersebut. Sehingga dapat disimpan dalam bentuk dokumen digital.
“Rencana kedepan kami akan kolaborasi dengan sekolah-sekolah dasar dan TK yang ada di Pedawa, supaya permainan tradisional Pedawa ini bisa dikenal lebih luas lagi,” demikian Sadnyana. [*]
Editor : Hari Puspita