GIANYAR, Radar Bali - Berdasarkan data Riskesdas 2018 bahwa terjadi peningkatan jumlah gangguan jiwa di Provinsi Bali, di mana Provinsi Bali menjadi urutan pertama dengan jumlah 11 persen penderita skizofrenia.
Gangguan jiwa di Bali juga sering dikaitkan dengan kerasukan setan, roh jahat, maupun adanya kutukan dari leluhur. Bali dikenal memiliki berbagai macam budaya dan kearifan lokal yang mengikat masyarakatnya.
Berbagai nilai atau kearifan lokal yang melekat pada masyarakat Bali memberikan pengaruh positif untuk berperilaku saling menghargai, peduli, dan menjaga keharmonisan satu sama lain, salah satunya yaitu Tat Twam Asi.
Merujuk pada konsep Tat Twam Asi, masyarakat Bali umumnya mereflesikan apa yang terjadi pada ODGJ ke dalam dirinya sendiri, sehingga masyarakat Bali akan berpikir kembali untuk memberikan label ataupun perilaku buruk terhadap ODGJ.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dibuatlah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang bertajuk “Penurunan Stigma Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Melalui Penerapan Kearifan Lokal Masyarakat Bali: Tat Twam Asi di Wilayah Kerja Puskesmas Sukawati I”.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan Kerjasama antara Stikes KESDAM IX/Udayana dan Universitas Hindu Indonesia dengan anggota Ns. Ni Made Sri Muryani, M.Kep, Ns. I Kadek Artawan, M.Kep dan Dr. Drs. I Putu Sarjana, M.Si ini, digelar pada 2 September - 5 Oktober 2023.
Dana dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan dana hibah PMP dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukawati I dengan sasaran enam desa, yaitu desa Ketewel, desa Guwang, desa Sukawati, desa Batuan, desa Batuan Kaler, dan desa Kemenuh.
Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan forum diskusi dengan tokoh masyarakat seperti Kepala Desa, Bendesa Adat, Kelihan, PHDI, WHDI, BPD, LPM, selain itu juga melibatkan petugas Kesehatan dari Puskesmas Induk dan Puskesmas Pembantu, Warga Desa dan Keluarga yang memiliki ODGJ.
Dalam kegiatan ini Ns. Ni Made Sri Muryani, M.Kep menyampaikan tentang Perawatan ODGJ dan Drs. I Putu Sarjana, M.Si menyampaikan tentang penerapan Tat Twam Asi.
Kegiatan kedua yang dilakukan adalah kegiatan tali asih berupa pemberian bantuan sembako kepada keluarga yang memiliki ODGJ.
TIm kegiatan pengabdian masyarakat juga memberikan kenang-kenangan kepada Desa berupa tensimeter yang dapat digunakan dalam pelaksanaan posyandu jiwa yang akan dibentuk oleh masing-masing desa.
I Putu Gede Widya Kusumanegara selaku Kepala Desa Ketewel sangat menyambut baik kegiatan ini dan berharap masyarakat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan pada ODGJ dan penurunan stigma ODGJ.
Widya juga menyampaikan akan segera melaksanakan Posyandu Jiwa sebagai bentuk perhatian dan penerapan Tat Twam Asi.
Hal tersebut juga disampaikan oleh Wayan Suartika selaku keluarga yang memiliki ODGJ sangat menyambut baik kegiatan ini, karena dapat meningkatkan pemahaman keluarga dan masyarakat tentang pencegahan kekambuhan pada ODGJ dan tidak selalu memberikan nilai negatif pada ODGJ.
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat Melalui penerapan Tat Twam Asi ini akan menurunkan stigma pada ODGJ dan dapat mencegah terjadinya kekambuhan pada ODGJ. (han)
Editor : Rosihan Anwar