Wayang Cenk Blonk Kritik Menyentil Lewat Banyolan, Masih Efektif sebagai Media Edukasi Masyarakat
Ni Kadek Novi Febriani• Senin, 12 Februari 2024 | 16:00 WIB
BANYOLAN: Wayang Cenk Blonk dianggap sebagai mendia seni efektif dalam pendidikan masyarakat.
DENPASAR, radarbali.id - Pertunjukan Wayang Cenk Blonk yang bertajuk “Sesolahan” (Panggung Apresiasi Seni Sastra) sukses membuat penontom tertawa. Wayang inovatif itu tampil di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (10/2/2024)
Jero Dalang I Wayan Nardayana mengangkat judul Dharma Wangsa Wijaya yang berupaya menterjemahkan tema BBB VI “Jana Kerthi Dharma Sadhu Nuraga” ke dalam sesolahan wayang kulit inovatif.
Petunjukan ini mengisahkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci kesuksesan. Adegan lucu dari tualen dan, merdah, delem dan sangut serta Ceng dan Blong yang selalu mengocok perut penonton.
Tualen juga mengingatkan orang hidup untuk meyasa kerti menjalani hidup dengan sepenuh hati. Suasana lucu saat Delem dan Sangut keluar dan menari penuh riang.
Delem menyanyikan dengan nada besar dan keras. Sangut melantunkan tembang berbahasa Indonesia tentang kisah reformasi yang kini mewarnai medos.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang memberikan kesempatan untuk tampil dalam acara Bulan Bahasa Bali VI tahun 2024 ini. Melalui pertunjukan Wayang Bali ini, kami berharap Bahasa, Aksara dan Sastra Bali tak punah di Bali,” ucap Jero Dalang Nardayana.
Bahasa, aksara dan sastra Bali itu merupakan identitas sebagai orang Bali. Maka, melalui pertunjukan wayang ini yang sebagian besar menggunakan bahasa Bali akan dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak muda agar bisa lebih memahami budaya warisan leluhurnya sendiri.
“Kami sudah mengetahui tidak semua dari audiens yang mengetahui bahasa Bali, maka dalam pertunjukan wayang ini disisipkan dengan bahasa Indonesia, dan terkadang bahasa Inggris sebagai bentuk sajian yang mengikuti perkembangan jaman,” ungkapnya.
Tujuannya untuk menciptakan pertunjukan yang lebih komunikatif sehingga dapat membimbing mereka untuk mengertri tentang bahasa itu sendiri.
"Kalau semua mamakai bahasa Bali, kami yakin tak semua penonton itu mengerti," tandasnya.***