DENPASAR, radarbali.jawapos.com - NCPC (National Creativepreneur Competition), sebuah kompetisi berbisnis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kampus BIM (Bali International Management), menjadi ajang bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk menunjukkan ide kreatif dalam perencanaan bisnis.
Wakil Rektor Kampus BIM, William Rahaditama S.E., M.Acc, dalam sesi wawancara mengungkapkan, NCPC adalah ajang kompetisi bisnis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kampus BIM, menggabungkan kreativitas dan perencanaan bisnis dalam rangka memperkenalkan potensi Kampus BIM sebagai pusat inovasi.
Dia menyebut, selain sebagai wadah kepada generasi muda untuk menyalurkan ide-ide bisnis kreatif, pihaknya juga menyosialisasikan Kampus BIM sebagai institusi yang mendukung inovasi dan kewirausahaan.
”Kami pastikan ikut berperan dalam membangun ekosistem bisnis kreatif di Indonesia. Kampus BIM berkomitmen untuk terus berorientasi dalam mencetak calon - calon mahasiswa ketika lulus kuliah langsung menekuni bisnis,” tandas William, disela kompetisi Sabtu, 30 November 2024.
Lebih lanjut William menekankan, ajang ini sekaligus kesempatan networking dengan profesional bisnis dan akademisi.
”Peserta juga bisa mengenal kampus BIM sebagai tempat pengembangan potensi kewirausahaan,” tukasnya.
Karena itu pihaknya berharap, kompetisi ini tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga memperkenalkan kampus BIM sebagai institusi yang berkomitmen terhadap pendidikan dan pengembangan kewirausahaan.
Bagaimana tanggapan peserta? Salah satu tim peserta dari SMAN 8 Denpasar, Sinta Mahadewi, Kadek Laura, Kadek Suarmini, mengaku mengikuti lomba ini karena ingin mengenalkan produk inovasi di ajang nasional.
Tim ini mengetengahkan tema, mengolah sampah organik menjadi kemasan bermanfaat. ”Kami mengolah sampah organik menjadi kemasan semacam plastik yang ramah lingkungan,” ungkap Sinta, saat diwawancara radarbali.id.
Inovasi ini katanya, sebagai solusi agar masyarakat tidak menggunakan kemasan berbahan plastik murni atau polyester yang berbahaya bagi lingkungan.
“Kalo jenis kemasan yang kami olah ini bisa larut dalam tanah karena bahannya organik,” tandasnya.
Tak kalah menarik peserta dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Marsalena yang memilih mengolah sampah organik khususnya sisa makanan menjadi pakan Maggot.
”Orientasi jangka panjangnya adalah industri pemanfaatan sampah organik menjadi pakan maggot, saya sudah ujicoba daya guna sampah organik olahan ini, hanya saja dalam skala besar perlu modal,” ungkap Marsal.
Ide itu menurutnya, berawal dari kegelisahannya volume sampah yang terus meningkat di Jogjakarta. ”Volume sampah di Jogja itu mencapai 300 ton perhari, inilah yang mendorong saya mengolah sampah sisa makanan menjadi industri pakan maggot,” tutur Marsal.
Sebagai informasi tambahan, kampus BIM memiliki beberapa prodi. Diantaranya, Bisnis Digital fokus pada strategi digital, e-commerce, dan transformasi bisnis melalui teknologi.
Kemudian Kewirausahaan yang mengimplmentasikan pendekatan praktis yang dirancang oleh para dosen yang ahli dari dunia bisnis dan penelitian, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi dengan wirausahawan sejati dan mendapatkan pengalaman industri.
Selain itu ada Teknolongi Pangan. Yaitu ilmu yang mempelajari aspek-aspek penting seperti keamanan pangan, inovasi produk, dan manajemen kualitas dari fisik, biologis, maupun kimiawi.***
Editor : M.Ridwan