Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Siswa dari Ekstrakurikuler Dwi Satya Suara (TAKSU RESMAN) Tampilkan Cak Yowana Sastra Asmara pada Festival Omed-Omedan di Banjar Kaja Sesetan

Admin Radar Bali • Jumat, 4 April 2025 | 19:48 WIB
Ni Kadek Diah Nanta Kuswandari, S.Sn., M.Sn
Ni Kadek Diah Nanta Kuswandari, S.Sn., M.Sn

Oleh: Ni Kadek Diah Nanta Kuswandari, S.Sn., M.Sn

(Guru Seni Budaya - SMA Negeri 2 Denpasar)

KREATIVITAS menjadi elemen kunci dalam menghadapi tantangan masa depan, dan sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkan serta mengembangkan potensi siswa.

Salah satu cara mewujudkannya adalah dengan menyediakan ruang kreativitas yang mendorong eksplorasi, kolaborasi, dan ekspresi diri di luar bidang akademik.

Ekstrakurikuler Dwi Satya Suara (TAKSU RESMAN - SMA Negeri 2 Denpasar) menjadi salah satu wadah yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan bakat dalam seni tari, tabuh, dan dharma gita.

Dalam wadah tersebut, siswa akan bersinergi satu sama lain, belajar untuk membangun hubungan yang positif antar sesama, membangun komunitas yang kuat, meningkatkan citra komunitas, dan tentunya dapat memperluas jaringan, serta berkontribusi terhadap masyarakat.

Pertunjukan Cak Yowana Sastra Asrama oleh siswa ekstrakurikuler Dwi Satya Suara RESMAN Dok. Pratiwi Diana, 2025
Pertunjukan Cak Yowana Sastra Asrama oleh siswa ekstrakurikuler Dwi Satya Suara RESMAN Dok. Pratiwi Diana, 2025

Di tengah kesibukan akademik, siswa-siswi Dwi Satya Suara mendapat kehormatan untuk tampil dalam pembukaan Festival Omed-Omedan di Banjar Kaja Sesetan, yang berlangsung pada Minggu, 30 Maret 2025.

Pertunjukan cak berjudul Yowana Sastra Asmara yang dibawakan menjadi sorotan dalam acara yang bertujuan untuk melestarikan budaya serta memberikan ruang bagi generasi muda dalam mengekspresikan diri melalui seni pertunjukan.

Pertunjukan adalah bagian penting dalam seni karena sebuah karya seni tidak hanya dibuat untuk penciptanya sendiri, tetapi juga untuk dinikmati publik. Karya seni selalu ditampilkan kepada publik.

Dengan demikian, pertunjukan menjadi momen pertemuan antara karya seni dan penontonnya, yang berkembang dalam perkembangan kreativitas (Simatupang, G.R. Lono Lastoro, dkk, 2017).

Pertunjukan bukan sekadar ajang pementasan, tetapi juga bagian dari proses kreatif itu sendiri. Terkait dengan proses kreatif siswa yang sudah tentu memerlukan metode penciptaan bahwa pertunjukan cak ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi dari siswa yang terlibat. Proses penciptaan pertunjukan dimulai dengan pemilihan tema yang relevan dengan Omed-Omedan.

Tim kreatif yang salah satunya terdiri dari koreografer terlebih dahulu melakukan riset tentang local genius yang kaya akan nilai-nilai budaya dan moral.

Pemilihan bentuk pertunjukan cak tentu karena adanya beberapa alasan kuat, baik dari segi nilai budaya, maupun daya tarik bagi penonton.

Keunikan cak atau Tari Kecak berbeda dari tarian Bali lainnya karena tidak menggunakan instrumen gamelan, melainkan bentuk musik internal yang melahirkan suara “cak-cak-cak” yang dinyanyikan langsung oleh diri penari.

Ritme ini menciptakan suasana dramatis, yang membuatnya khas dan mudah dikenali. Sekitar tahun 1930-an, seniman Wayan Limbak bersama pelukis Jerman Walter Spies mengembangkan tarian ini menjadi pertunjukan yang mengadaptasi kisah Ramayana.

Pada pemanfaatan ruang kreatif ini siswa ekstrakurikuler Dwi Satya Suara (TAKSU RESMAN) mentransformasikan konsep cerita yang kearifan lokal Omed-Omedan. Selain itu, cak sebagai salah satu ikonik wisatawan yang menjadikannya paling terkenal dan menarik.

Berbeda dengan tari Bali lainnya yang biasanya melibatkan beberapa penari, cak melibatkan puluhan bahkan ratusan orang. Hal ini menciptakan energi kolektif yang kuat dan memberikan pengalaman menonton yang lebih mendalam.

Penonton bisa menikmati perpaduan seni tari dan vokal tanpa alat musik, yang membuatnya lebih menarik dari sekadar tarian biasa.

Setelah melakukan studi pustaka dalam beberapa sumber referensi, akhirnya siswa mendapatkan ide judul untuk karya pertunjukan cak yaitu Yowana Sastra Asmara. Menurut siswa yang sekaligus sebagai koreografer atas nama I Gede Mahardika Hartama Putra dan Anak Agung Ngurah Trisna Adi Putra, mengatakan bahwa:

“Yowana Sastra Asmara yang berarti "Cerita Cinta Anak Muda" menggambarkan perjalanan cinta yang penuh keindahan, keraguan, dan kebahagiaan tulus.

Gerakan tari dalam garapan ini diawali dengan langkah ringan dan ceria yang mencerminkan perasaan penasaran dan kegembiraan.

Seiring berkembangnya kisah, gerakan tubuh menjadi semakin dinamis, menggambarkan pergolakan emosi dalam perjalanan cinta remaja.

Dengan iringan vokal cak yang harmonis, penampilan ini menyampaikan pesan bahwa cinta di masa muda adalah cerita yang penuh warna dan harapan”.

Selama proses pencarian judul karya, koreografer juga memanajemen siswa lainnya untuk membagi diri menjadi beberapa kelompok untuk mengembangkan elemen-elemen pertunjukan, termasuk pemusik cak dan penari.

Para siswa yang memiliki kemampuan dalam bidang musik berkolaborasi untuk menciptakan vokal cak yang harmonis dan menarik, sementara siswa-siswa yang mahir dalam tari merancang gerakan yang dinamis dan penuh ekspresi.

Latihan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melibatkan para seniman lokal dan guru seni sebagai mentor guna memastikan pertunjukan tetap autentik serta mencerminkan nilai budaya Bali.

Dengan kostum berwarna-warni dan gerakan yang energik, penampilan siswa Dwi Satya Suara di Festival Omed-Omedan berhasil memukau para penonton.

Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan moral tentang pentingnya menjaga tradisi dan budaya.

Energi kolektif yang terpancar dari tarian dan nyanyian cak menciptakan pengalaman yang mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Lalu persiapan tiga hari sebelum hari H meliputi pengecekan kostum, latihan terakhir, koordinasi penari, serta memastikan elemen yang lain siap agar pertunjukan berjalan lancar.

Pada hari pembukaan festival, penampilan cak ini berhasil menarik perhatian pengunjung. Salah seorang penonton memberikan apresiasi kepada penampilan siswa, katanya “Bravo…” Bravo dalam KBBI berarti kata yang digunakan untuk memuji seseorang/kelompok karena telah melakukan sesuatu dengan baik.

Melalui festival ini, diharapkan siswa semakin termotivasi untuk terus berkarya dan berinovasi dalam melestarikan kearifan lokal.

Dwi Satya Suara membuktikan bahwa seni tidak hanya sekadar ekspresi, tetapi juga sarana pembelajaran, komunikasi, dan penguatan identitas budaya.

Lebih dari itu, partisipasi dalam acara seperti Festival Omed-Omedan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk memperluas jaringan, membangun komunitas yang kuat, serta menjadi duta budaya di tingkat yang lebih luas.

Dengan dedikasi dan semangat yang tinggi, Dwi Satya Suara tidak hanya berkontribusi dalam melestarikan budaya Bali, tetapi juga menginspirasi generasi mendatang untuk tetap menghargai dan mengembangkan seni tradisional.

Keberhasilan siswa dalam pertunjukan ini menjadi bukti bahwa ruang kreatif dapat menjadi wadah untuk berkembang secara optimal, baik dalam aspek seni maupun karakter.

Referensi:

Simatupang, G.R. Lono Lastoro, Michael HB Raditya, Leilani Hermiasih. 2017. Daya Seni: Bunga Rampai 25 Tahun Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar