Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Cegah Krisis Sosial Agar Tidak Seperti Film Pengepungan di Bukit Duri, Terapkan Penguatan Pendidikan Karakter dan Nilai Pancasila

Florensia Dita Dwi Kurnianti • Sabtu, 26 April 2025 | 01:46 WIB
CEGAH KONFLIK: Masa SMA dianggap masa terindah dalam fase perrkembangan anak menuju remaja, namun juga fase rawan konflik.
CEGAH KONFLIK: Masa SMA dianggap masa terindah dalam fase perrkembangan anak menuju remaja, namun juga fase rawan konflik.

DENPASARradarbali.jawapos.com - Mencegah konflik sosial seperti film Pengepungan di Bukit Duri, sekolah sangat perlu menerapkan Penguatan Pendidikan karakter dan nilai Pancasila.

Mengutip dari kisah konflik sosial yang diusung Joko Anwar dalam film terbarunya, penting untuk mengulas penerapan konsep pendidikan di sekolah.

Berlatar tempat di lingkungan sekolah, film ini menceritakan bagaimana konflik sosial yang serius bisa berdampak fatal. Tidak hanya kerusuhan, tapi juga mengincar nyawa seseorang.

 Baca Juga: Cegah Bule Kuasai Aset Properti di Bali Lewat Kawin Kontrak, Ini Poin Penting Perda Nominee

Kehidupan remaja yang dibumbui dengan nilai-nilai sosial penuh dengan konflik dan kekerasan ini harus menjadi renungan.

Perenungan untuk semua baik siswa, guru, dan wali murid. Kekerasan tidak akan menyelesaikan suatu permasalahan.

Tidak akan menjadikan siswa memiliki kualitas sosial yang baik. Tidak tumbuh menjadi pribadi yang baik.

 Baca Juga: Tak Mau Masuk Penjara, Doktif Tiba-tiba Bilang Tak Kenal Nikita Mirzani Netizen: Circle Pertemanan Ular!

Penting untuk menerapkan Penguatan Pendidikan Karakter dan nilai Pancasila demi mencegah konflik sosial seperti dalam film.

Film Pengepungan di Bukit Duri mengingatkan bahwa pembentukan karakter sangat berperan penting dalam pertumbuhan kualitas generasi penerus bangsa.

Salah satu cara jitu adalah melalui penerapan penguatan pendidikan karakter dan nilai Pancasila di sekolah. Selaras dengan kurikulum yang berlaku saat ini.

Sekolah tidak hanya membangun kecerdasan akademis, tapi juga menguatkan karakter siswa itu sendiri.

 Baca Juga: Lisa Mariana Menangis Minta Maaf pada Istri Ridwan Kamil Mengaku Tidak Tenang Setiap Malam karena Ini!

Nilai-nilai yang jadi prioritas adalah nilai etika, moral, nasionalisme, dan gotong royong. Semua itu dituangkan dalam proses pembelajaran siswa di sekolah.

Melalui ketiga nilai di atas, siswa akan membiasakan diri untuk menjaga sikap dengan mengedepankan sopan santun dan kemanusiaan.

Jiwa nasionalisme yang peduli akan masa depan bangsa juga akan terpupuk kuat di dalam jiwanya.

 Baca Juga: Siap Tuan Rumah Climbing World Cup Bali, Pendaftar Sementara Sudah Capai 222 Orang dari 31 Negara

Terbiasa bekerja sama juga memperkuat jiwa gotong royong dan bukannya menjadi manusia individual yang sibuk dengan ego masing-masing.

Tujuannya untuk mendidik siswa agar memiliki karakter kuat dan penuh tanggung jawab atas segala tindakannya.

Tujuan lainnya untuk mencegah krisis moral yang sering muncul akibat adanya pengembangan teknologi dan budaya asing.

Hal ini juga menjadi cara tepat untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman sejak dini di sekolah.

Contoh sederhananya adalah membuat program “Sekolah Karakter”. Melalui program ini sekolah mewajibkan siswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial.

Tentu saja ini merupakan program yang masih sangat relevan dengan kurikulum saat ini. Kurikulum K-13 dan Kurikulum Merdeka.

Dua kurikulum ini mengedepankan kegiatan belajar dalam bentuk praktek daripada sekedar teori. Kegiatan sosial merupakan salah satunya.

Kemasan yang dibuat juga harus mengedepankan tema yang selaras dengan zaman serba canggih ini. Tidak melupakan penggunaan media digital.

Kegiatan sosial diantaranya seperti volunteering, kerja bakti, atau proyek komunitas. Hal ini berkaitan dengan pendidikan etika digital.

Kegiatan ini juga bisa melibatkan beberapa instansi yang bergerak di bidang kemanusiaan. Hal ini sebagai contoh aksi nyata. Salah satunya Dinas Sosial.

Berbicara zaman modern, penguatan karakter juga sangat bergantung pada penggunaan digital atau media sosial. Semua komunikasi serba digital sekarang. Harus ada pendampingan.

Sebelumnya tidak ada pembelajaran khusus mengenai etika dalam penggunaan media sosial. Jika dibiarkan akan berdampak pada penggunaan tanpa filter.

Dengan adanya program “Sekolah Karakter”, siswa dikenalkan dengan etika penggunaan media sosial. Tujuannya kembali pada pencegahan konflik sosial di lingkungan pendidikan.

Tidak hanya etika penggunaan media sosial yang selaras dengan dunia serba maju ini. Ditingkatkan pula etika bersosialisasi.

Siswa diajarkan tentang privasi digital, anti-hoaks, dan cara berkomunikasi dengan baik di internet dan juga bersosialisasi di masyarakat.***

Editor : M.Ridwan
#Remaja SMA #pendidikan sekolah #Pengepungan di Bukit Duri #krisis #konflik