Belakangan ini isu sampah mendominasi perhatian publik Bali, namun kebutuhan dasar yang tak kalah krusial, yaitu konservasi air, justru sering terabaikan. Padahal, seperti yang ditekankan oleh Osila, seorang guru SD Negeri Besan, Kecamatan Dawan, "Kalau tidak ada air, kita bisa mati."
NAH! Menyadari ancaman krisis air, SD Negeri Besan mengambil langkah konkret dengan mengajak siswa-siswanya beraksi melalui inovasi Sistem Taman Hujan Sekolah.
Inisiatif ini tidak hanya mendidik, tetapi juga memberikan dampak finansial yang signifikan bagi sekolah.
Bisa Menghemat Lebih dari 50 Persen Biaya Air
Melalui Sistem Taman Hujan Sekolah, air hujan yang jatuh dari atap kelas tidak dibiarkan terbuang. Air disalurkan melalui talang, ditampung di kolam taman, lalu air yang berlebih dialirkan ke taman resapan dan bak penampungan.
Air hasil penampungan ini kemudian dimanfaatkan kembali untuk:
- Irigasi kebun sekolah.
- Penyiraman tanaman.
- Pemeliharaan fasilitas sanitasi.
"Jadi air hujan tidak terbuang begitu saja. Dengan sistem ini, air hujan dapat tertampung dan dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah. Terutamanya saat air PAM mati," jelas Osila.
Inovasi ini memberikan hasil yang sangat terukur. Sekolah mencatat efisiensi penggunaan air bersih lebih dari 50 persen dibandingkan sebelumnya. Jika biaya air PAM sekolah rata-rata mencapai Rp75 ribu per bulan (bahkan pernah menyentuh jutaan rupiah), sejak menerapkan sistem ini, rata-rata tagihan air PAM turun drastis menjadi hanya berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per bulan.
Bisa Tanam Pohon Penyerap Air Jadi Aksi Lanjutan
Selain memanfaatkan air hujan, konservasi air juga dilakukan para siswa dengan kegiatan penanaman bibit pohon. Bibit yang dipilih pun bukan sembarang bibit, melainkan jenis yang dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam penyerapan air, seperti:
- Pohon kemiri
- Pohon gayam
- Pohon kepayang
Aksi ini didasari keprihatinan mendalam atas kondisi lingkungan sekitar. "Sebelumnya di Besan, seluruh sungai yang ada memiliki air yang mengalir. Sekarang banyak yang tidak ada airnya, bahkan berakhir jadi tempat untuk membuang sampah," ungkap Osila.
Oleh karena itu, konservasi air ini didorong untuk segera direplikasi. "Untuk itu konservasi air harus segera dilakukan, baik di seluruh sekolah, maupun rumah warga," tandasnya, menegaskan bahwa kesadaran akan pentingnya air harus dibangun mulai dari lingkup terkecil.[*]
Editor : Hari Puspita