MEMATRI capaian artistika-estetika mitos kini sekaligus memaknai B-GAAD II, ISI BALI mempersembahkan pergelaran intermedium Ananta-Mahaboga-Anantya, Selasa (28/10/2025), di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama ISI BALI.
Pergelaran intermedium dipanggungkan dalam Bali–Global Performing Arts Map (B-GPAM), mengedepankan kolaborasi lintas disiplin seni, padu harmoni tari, musik, animasi, dan tata kostum kreasi inovasi teknologi multimedia.
Koordinator B-GPAM Prof. Gede Yudarta mengungkapkan, pertunjukan intermedium ini mengusung konsep Bumi dalam memori peradaban Bali.
Menghidupkan kembali mitologi Anantaboga, sosok naga raksasa penyangga dunia, dipercaya sebagai simbol kemakmuran dan sumber kesejahteraan.
Melalui metafora kosmik, pertunjukan Ananta–Mahaboga–Anantya menghadirkan pembacaan baru atas mitos tersebut dalam bentuk tari yang menghanyutkan sekaligus menggugah, memvisualkan tragedi alam yang merekah menjadi harapan kehidupan.
’’Sebuah pengalaman multisensori yang menggugah, di mana tradisi dan teknologi bertemu dalam harmoni yang memukau,” terang Prof. Komang Sudirga, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama.
Mitos dalam Ruang Diskursus
Mitos dan memori dibedah hingga jauh dalam simposium internasional Bali-Global Arts and Design Symposim (B-GADS) pada Rabu (29/10) di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama.
Menghadirkan 18 pembicara undangan dari berbagai universitas di Asia Pasifik, profesional, dan Wali Kota Misato, Jepang, Takashi Kado, serta pembicara kunci Rektor ISI BALI Prof. Dr. Wayan ’’Kun’’ Adnyana.
Simposium menghasilkan simpulan pandangan terkait relevansi pendidikan tinggi seni dan desain dalam preservasi budaya lokal dan warisan budaya, termasuk menemukan kembali makna-makna mitos lama.
Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI BALI Dr. I Made Jodog menguraikan 18 pembicara undangan.
Banyak perspektif dan data seni-budaya penting tersaji dalam simposium internasional ini. misalnya; Wali Kota Misato Takashi Kado mempresentasikan mitos naga berkepala delapan sebagai penguatan memori tentang mitigasi bencana alam.
Mitos naga berkepala delapan diterjemahkan seniman Jepang dalam seni pertunjukan. Bahkan, dalam pengembangan pertunjukan tersebut diiringi gamelan Bali.
Editor : Rosihan Anwar