Dosen dan mahasiswa FTK Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Wantilan Desa Muntig Tulamben.
SINGARAJA, radarbali.jawapos.com - Dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik dan Kejuruan (FTK) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menunjukkan aksi nyata dalam pengabdian masyarakat.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak bertajuk Optimalisasi Pertanian Lahan Kering dan Diversifikasi Produk Pangan Lokal, mereka hadir ke Desa Tulamben, Karangasem, untuk membantu petani mengembangkan pertanian berbasis teknologi dan inovasi pangan.
Kegiatan berlangsung di dua lokasi sekaligus. Yakni di Balai Pertemuan Kelompok Tani Lahar Sari dan Wantilan Desa Muntig Tulamben. Pertemuan melibatkan yakni Kelompok Tani Lahar Sari dan Kelompok Wanita Tani Pula Sari.
Program tersebut diinisiasi oleh Dosen FTK Undiksha, I Gusti Lanang Agung Raditya Putra, S.Pd., M.T., yang juga menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTK untuk terjun langsung mendampingi warga sejak tahap perencanaan hingga praktik lapangan.
Di Balai Kelompok Tani Lahar Sari, kegiatan difokuskan pada penerapan teknologi pertanian modern. Narasumber Prof. Dr. rer. nat. I Wayan Karyasa, S.Pd., M.Sc. memberikan sosialisasi dan demonstrasi penggunaan teknologi seperti rumah pembibitan, sistem irigasi tetes, elektrifikasi buah naga, hingga pengolahan media tanam berbasis cocopeat.
Prof. Karyasa menjelaskan bahwa kombinasi teknologi ini mampu menghemat air hingga 40 persen dan meningkatkan produktivitas tanaman tanpa bergantung pada musim. “Teknologi sederhana, tapi dampaknya besar jika diterapkan secara konsisten,” ujarnya di sela kegiatan.
Mahasiswa Undiksha turut mendampingi petani mempraktikkan teknologi tersebut. Mereka memperagakan cara kerja irigasi tetes yang mengalirkan air langsung ke akar tanaman, serta menjelaskan manfaat rumah bibit sebagai pengatur suhu dan kelembaban agar bibit tumbuh optimal.
Pelatihan penggunaan cocopeat juga mendapat antusias tinggi dari peserta.
Ketua Kelompok Tani Lahar Sari, I Gede Jaya, mengaku terkesan. “Selama ini kami tidak tahu ada teknologi seperti ini. Kami berterima kasih karena mahasiswa datang jauh-jauh dari Singaraja untuk berbagi pengetahuan. Ini membuka wawasan kami sebagai petani di daerah kering,” ujarnya.
Peserta lain, I Made Widja, mengaku teknologi pertanian itu sangat relevan diterapkan di Tulamben. Mengingat air untuk pertanian cukup terbatas.
"Kami jadi tahu cara menanam dengan lebih efisien. Kalau ada pelatihan seperti ini lagi, kami pasti ikut,” katanya.
Sementara di Wantilan Desa Muntig Tulamben, peserta yang mayoritas perempuan belajar mengolah hasil panen menjadi produk pangan bernilai jual tinggi. Tim Undiksha memperkenalkan Teknologi Tepat Guna Fullset Cashew Processing Machine.
Teknologi itu merupakan serangkaian alat pengupas, pengering, dan pemanggang kacang mete yang dirancang untuk mempermudah proses produksi secara efisien dan higienis.
Dengan alat ini, para petani bisa mengolah mete dari hasil panen hingga produk siap jual tanpa bergantung pada pihak luar. Hasilnya, kualitas dan kuantitas produksi meningkat signifikan.
Dua narasumber, Prof. Dr. I Gusti Lanang Wiratma, M.Si. dan Nyoman Mariani, membimbing peserta membuat aneka produk berbasis kacang mete seperti snack bar, granola berbahan sorgum, biji labu, kuaci, hingga mete aneka rasa—original, gurih, dan daun jeruk.
Mereka juga memberi pelatihan pengemasan dan pelabelan agar produk siap bersaing di pasar.
“Saya senang sekali ikut pelatihan ini. Kami dapat banyak pengetahuan baru,” ungkap Luh Sari.
Dari pelatihan tersebut, lahir berbagai produk seperti kacang mete olahan, abon mete, dan snack bar lokal yang sudah siap dipasarkan.
Ketua pelaksana kegiatan I Gusti Lanang Agung Raditya Putra, S.Pd., M.T. menjelaskan, program tersebut dirancang melalui proses pembelajaran sosial yang berdampak.
Mahasiswa datang bukan sebagai pengajar, melainkan mitra belajar yang mendengarkan kebutuhan masyarakat dan menawarkan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Suatu negara dikatakan berdaulat apabila rakyatnya mampu memenuhi kebutuhan pangan dari tanahnya sendiri. Karena itu, pendidikan pertanian harus menjadi bagian dari identitas generasi mendatang,” tegasnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi langkah awal regenerasi petani di kalangan generasi Z, agar semangat bertani tidak punah.
Program juga sejalan dengan Asta Cita ke-3 dan ke-6, yang menekankan peningkatan lapangan kerja berkualitas, penguatan kewirausahaan, serta pembangunan dari desa sebagai upaya pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.
Tim pelaksana juga mengapresiasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi atas dukungan pendanaan.
“Dukungan ini bukan sekadar bantuan, tapi juga dorongan moral bagi kami untuk terus berinovasi dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Lanang.
Editor : Rosihan Anwar