Bagi I Ketut Wija, keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk menjadi seorang guru. Meski tak seperti guru normal lainnya, Wija ingin memberi sumbangsih maksimal dalam memberikan ilmu kepada peserta didiknya di SDN 2 Negeri, Antiga Kelod, Kecamatan Manggis.
NAHAS itu terjadi Februari lalu. Ketut Wija mengalami kecelakaan hebat saat berkendara menggunakan sepeda motor. Saat itu, ia mengalami luka cukup parah. ”Saya sempat tidak sadarkan diri. Saya dirawat berhari-hari di rumah sakit,” ucapnya Selasa (25/11/2025).
Akibat luka serius yang dialami, guru berusia 40 tahun itu menjalani beberapa kali keluar masuk meja operasi. ”Saya dioperasi bagian kepala, perut sampai kaki,” kenangnya.
Kejadian nahas itu membuat Wija tak bisa berjalan dan hanya memakai kursi roda. Saat penyerahan SK yang menjadi momen penting bagi pelamar guru PPPK, ia tak bisa hadir. ”Saat penerimaan SK waktu itu, saya belum bisa berdiri jadi saya mengambil SK di Kantor Dinas Pendidikan,” kata Wija.
Guru yang mengajar di bangku kelas 3 itu, kini hanya bisa mengandalkan sang istri. ”Hari-hari saya berangkat ke sekolah diantar istri,” imbuh Wija.
Bahkan saat ajaran baru kemarin, Wija sudah mulai bisa mengajar, meski dengan menggunakan kursi roda. Baginya, keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk menjalankan kewajibannya sebagai tenaga pengajar. ”Saya berusaha melalui dengan semangat,” ungkapnya.
Sejak sebulan belakangan, Wija mulai belajar berjalan tanpa menggunakan kursi roda. ”Saya belum bisa berdiri sempurna, masih perlu bantuan tongkat untuk mengajar. Saya juga pakai pengeras suara karena sejak kecelakaan suara saya kecil,” tuturnya.
Di momen hari guru, sangat berharap untuk segera bisa sembuh dari sakit yang dialami. ”Semoga bisa normal kembali sehingga saya bisa mengajar dengan maksimal,” tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita