KLUNGKUNG, Radar Bali.id – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Klungkung mengambil langkah strategis yang cukup berani untuk mengatasi ketidakseimbangan pendidikan di Kecamatan Nusa Penida.
Sebanyak delapan Sekolah Dasar (SD) di wilayah tersebut direncanakan akan menjalani regrouping alias penggabungan) pada tahun 2026 mendatang.
Kebijakan ini diambil menyusul adanya temuan signifikan, yaitu kelebihan jumlah ruang belajar yang ekstrem di satu sisi, dan kekurangan tenaga pengajar serta kepala sekolah di sisi lain.
147 Ruang Belajar Jadi "Mubazir"
Kepala Disdikpora Klungkung, I Ketut Sujana, mengungkapkan data yang menjadi dasar keputusan ini. Nusa Penida saat ini memiliki 53 SD dengan total 325 ruang belajar dan 327 rombongan belajar (robel), menampung 4.988 siswa.
"Dengan jumlah siswa tersebut, idealnya hanya terdapat 178 ruang belajar. Ini berarti ada kelebihan sebanyak 147 ruang belajar," jelas Sujana.
Kekurangan Guru dan Kepala Sekolah Jadi Masalah Krusial
Selain ruang yang berlebih, masalah utama yang mendesak adalah kekurangan SDM. Secara keseluruhan di Kabupaten Klungkung, kekurangan kepala sekolah mencapai 24 orang (kebutuhan 133 orang, tersedia 109 orang), dan kekurangan guru mencapai angka fantastis, yaitu 307 orang (kebutuhan 1.584 orang, tersedia 1.277 orang). Regrouping diharapkan dapat mengefisienkan distribusi guru dan kepala sekolah.
Daftar Sekolah yang Akan Digabungkan
Regrouping akan menyasar sekolah-sekolah yang jumlah siswanya sangat minim. Sekolah-sekolah ini dianggap tidak efisien dalam kegiatan operasionalnya.
Empat pasang sekolah yang akan digabungkan pada 2026 adalah:
- SD Negeri 2 Tanglad akan digabungkan ke SD Negeri 1 Tanglad.
- SD Negeri 2 Sekartaji akan digabungkan ke SD Negeri 1 Sekartaji.
- SD Negeri 6 Ped akan digabungkan ke SD Negeri 2 Ped.
- SD Negeri 3 Kutampi akan digabungkan ke SD Negeri 5 Kutampi.
Sujana membeberkan, jumlah siswa di empat sekolah tersebut sangat sedikit, bahkan tidak mencapai 35 orang. "Seperti SDN 2 Tanglad hanya memiliki 18 siswa, SDN 3 Kutampi 33 siswa, SDN 2 Sekartaji 23 siswa, dan SDN 6 Ped 28 siswa," ungkapnya.
Ancaman Kesulitan Dana BOS
Alasan lain yang tak kalah penting adalah isu pembiayaan operasional sekolah. Sekolah dengan siswa yang minim berpotensi besar kesulitan membiayai operasional, karena dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima sangat bergantung pada total jumlah siswa.
"Saat ini, sekolah-sekolah tersebut masih bisa membiayai operasionalnya. Namun, jika ini berlanjut, sekolah itu akan kesulitan pembiayaan, bahkan hanya untuk membayar listrik sekalipun," tegas Sujana.
Langkah regrouping ini diharapkan dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih efisien dan berkelanjutan di Nusa Penida, baik dari segi sarana prasarana maupun sumber daya manusia..[*]
Editor : Hari Puspita