BANGLI, RadarBali.id– Data terbaru dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bangli mencatat angka putus sekolah yang mengkhawatirkan.
Per tanggal 9 Desember 2025, sebanyak 54 anak usia sekolah dari jenjang SD hingga SMP di Bangli terpaksa menghentikan pendidikannya.
Berbagai faktor kompleks melatarbelakangi keputusan pahit ini, mulai dari himpitan ekonomi hingga masalah keluarga dan lingkungan sosial.
Kintamani : Lokasi Paling Banyak Terdampak
Kepala Seksi Kurikulum Peserta Didik dan Pembangunan Karakter, Disdikpora Klungkung, I Nyoman Darmawan, merinci bahwa dari 54 siswa tersebut, 21 siswa berasal dari tingkat SD dan 33 siswa dari tingkat SMP.
Angka tertinggi kasus putus sekolah ini terpusat di Kecamatan Kintamani, mencatat total 49 siswa yang terdiri dari 21 siswa SD dan 28 siswa SMP.
"Kemudian di Kecamatan Tembuku ada sebanyak 5 siswa SMP putus sekolah. Sementara untuk Kecamatan Bangli dan Susut, kami mencatat nihil kasus," ungkap Darmawan.
5 Faktor Utama Pemicu Anak Putus Sekolah
Darmawan menjelaskan setidaknya ada lima kategori faktor utama yang menyebabkan puluhan anak ini meninggalkan bangku sekolah:
- Faktor Ekonomi:
- Keterbatasan biaya pendidikan.
- Orang tua memprioritaskan anak untuk segera bekerja.
- Kondisi keluarga kurang mampu.
- Faktor Keluarga:
- Kurangnya perhatian dan dukungan belajar dari orang tua.
- Dampak perceraian atau konflik keluarga yang tidak harmonis.
- Anak dititipkan tanpa kontrol yang baik.
- Faktor Lingkungan Sosial:
- Pengaruh negatif dari teman sebaya.
- Lingkungan tempat tinggal yang kurang mendukung pendidikan.
- Terjadinya perkawinan usia dini.
- Faktor Sekolah:
- Adanya tindakan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
- Faktor Pribadi/Internal Siswa:
- Motivasi belajar rendah.
- Sering absen yang berujung tertinggal pelajaran.
- Masalah kesehatan atau gangguan psikologis.
Upaya Pemkab Bangli: "Jemput Bola" dan Lawan Bullying
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Disdikpora terus berupaya keras untuk menurunkan angka putus sekolah. Beberapa langkah strategis yang dilakukan meliputi:
- Identifikasi Dini: Melakukan identifikasi dini terhadap siswa yang berisiko putus sekolah.
- Sistem Jemput Bola: Satuan pendidikan (SP) proaktif mendata anak tidak sekolah (ATS) dan melakukan pendekatan secara kekeluargaan.
- Pencegahan Perundungan: Gencar melakukan sosialisasi anti-perundungan, membentuk Tim TPPKSP, dan menciptakan sekolah ramah anak.
- Dukungan Keluarga: Meningkatkan komunikasi antara sekolah dan orang tua, edukasi pentingnya pendidikan minimal 12 tahun, serta pendampingan psikologis bagi siswa yang bermasalah.
- Bantuan Ekonomi: Mengoptimalkan penyaluran bantuan biaya pendidikan.[*]
Editor : Hari Puspita