MANGUPURA, radarbali.jawapos.com - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Abianbase, Badung masih masih bekerja sore hari walau telah selesai mendistribusikan makanan ke penerima manfaat.
Di dalam kantornya terpasang papan besar yang berisi catatan menu makanan bergizi gratis (MBG). Tampak jenis makanan yang dibagi untuk enam menu.
Menu 1: Nasi uduk, ayam kecap, tempe tepung, tumis labu siam, jagung, dan pepaya; Menu2: Nasi goreng, telur dadar slice, edamame, timun, semangka; Menu3: Nasi putih, chicken nugget ditambah saus tomat sachet, tempe saus mentega, acar buncis wortel, salak;
Menu4: Nasi putih, telur pindang, tahu ungkep goreng, tumis kol dan wortel, semangka, pepaya potong dadu: Menu5: Nasi putih, ayam crispy dengan saus tomat sachet, tempe manis, tumis toge kacang panjang, dan anggur merah 5 pcs; Menu6: Roti UMKM, Susu UHT full cream 125ml, kacang kapri, kelengkeng 5 pcs.
Kepala SPPG bersama ahli gizi, chef dan mitra SPPG selalu melakukan evaluasi bersama terhadap penyelenggaraan MBG berkualitas.
”Kami kerja sama, rembug bareng menentukan sudah ada kecukupan gizi per hari nya kami tentukan di sini,” jelasnya Kepala SPPG Abianbase Sigit Widiyanto.
Sigit menuturkan, meski ia berlatar belakang sarjana pariwisata, tetapi mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk menjadi bagian dari badan gizi nasional (BGN) yang berwenang mengelola SPPG. Ia ikut pendidikan dan pelatihan di Singaraja.
Selama pendidikan ia dilatih kedisiplinan, managerial, f&b (food and beverage) dan pengetahuan gizi. Setiap SPPG wajib memiliki ahli gizi, chef yang mengantongi sertifikat dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan akuntan.
”SPPG wajib memiliki tiga staf BGN, kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. Yang punya dapur, itu sistem mitra di bawah yayasan kerjasama dikelola oleh SPPG,” jelasnya.
SPPG Abianbase baru berjalan dari 27 Oktober, dimulai dengan penerima manfaatnya 1.047 orang untuk empat sekolah dasar (SD). Kemudian tanggal 8 Desember bertambah sehingga berjumlah 2.368 orang merambah siswa TK dan SMP.
Sedangkan penerima manfaat B3 (Bumil, Busui dan Balita) dari SPPG Abianbase direncanakan Januari 2026 mendatang.
”Juknis harus mengambil semua jenjang pendidikan PAUD ,TK, SD, SMP, SMA dan B3 (Busui, Bumil balita),” bebernya.
Penentuan menu ditentukan ahli gizi dan chef yang sesuai dengan kecukupan gizi per hari. Makanan harus mencakup standar gizi,yakni: karbohidrat,protein hewani, protein nabati, sayur dan buah-buahan.
Jumlah tenaga yang dipekerjakan sesuai dari jumlah penerima manfaat. Kalau maksimal penerima manfaat 3 ribu, maka jumlah tenaga kerjanya 47 orang.
Namun, SPPG Abianbase mengawali dengan jumlah tenaga 23 dikarenakan jumlah penerima manfaat hanya melayani 1.047 orang.
”Kalau maksimal penerima manfaat 3000, jumlah tenaga 47 orang, plus kami bertiga 50. Tapi karena kami baru 1. 047, kami memakai tenaga sekitar 23 orang,” terang Sigit.
Pekerja yang direkrut SPPG Abianbase adalah masyarakat setempat. Itu salah satu bukti dengan program MBG berdampak baik untuk masyarakat karena membantu membuka lapangan kerja.
Menurut Sigit, kelebihan menggandeng masyarakat setempat karena mereka juga lebih tahu kondisi di desa setempat.”Ada kepercayaan juga (dengan mengajak tenaga dari masyarakat lokal,red) lebih tahu juga pakai bahan-bahan di Abianbase,” bebernya.
Begitu juga pembelian bahan makanan, SPPG Abianbase mengandalkan UMKM di wilayah Abianbase. Tidak membeli dari luar. Paling jauh beli di Pasar Badung ketika stoknya langka.
Tantangan yang dirasakan Sigit jika ada hari raya akan ada kenaikan harga bahan makanan. Namun, harus tetap menyediakan makanan sesuai syarat gizi yang ditentukan.
”Kami harus kerjasama sama UMKM sekitar. Karena memang kita kan itu pemberdayaan masyarakat lokal. Jadi kami cari supplier yang ada dekat sini. Belanja-belanja pasar dekat sini. Penghasil roti dekat sini,” cetus Sigit yang juga didampingi Mitra SPPG Putu Eva Lisjayantha.
Penyediaan makanan juga variatif. Jika tidak pakai nasi, bisa diganti dengan roti karena sama- sama sumber karbohidrat. Asalkan sesuai dengan pemenuhan gizi setiap hari. Pernah juga anak-anak request makanan yang ingin dibuatkan chicken katsu.
”Selesai mereka makan kan, ada balik omprengan lihat ada tidak sisa makanan Oh ini masih banyak nih,kami timbang, kalau banyak berarti menu ini tidak disukai. Besok kami ganti menunya apa, evaluasi menu lagi,” beber Sigit.
SPPG juga wajib menerapkan zero waste. Sisa limbah MBG tidak dibuang begitu saja, tapi diberikan peternak di wilayah Abianbase, Mengwi, kabupaten Badung. Terlebih juga pekerja SPPG ada yang memiliki ternak.
Sehingga dari proses pembuatan makanan dari awal hingga akhir tidak menyisakan kotoran.”Sini kan masih ternak, ternak bebek, ternak ayam. Kami kasih gratis. Masyarakat sekitar ada peternak. Relawan juga ada jadi peternak,” tuturnya.
Sesuai petunjuk teknis, SPPG wajib menyediakan sanitasi yang baik. Tidak membuang langsung ke selokan karena merusak lingkungan setempat.
Lanjut Sigit, harus ada di ipal atau sepiteng penyimpan limbah.”Tidak boleh memasuki daerah sini supaya tidak mengganggu masyarakat sekitar,” tegasnya.
Pelaksanaan MBG Super Ketat Tak Boleh Keluar dari Juknis
SPPG Abianbase yang belum lama beroperasi ini, tapi berhasil menjadi SPPG yang mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) dengan memperoleh nilai 91.
Itu adalah hasil dari keseriusan SPPG memperhatikan sanitasi untuk memproduksi makanan sehat.”Setiap dapur ada nilai SLHS msing masing , kebetulan saat penilaian kmarin , dapur kami dapat nilai 91,” imbuh Sigit.
Skema penyediaan makanan, jelas Sigit pertama yang harus diperhatikan juga bahan makanan. Persiapan bahan makanan dilakukan dari H-1.
Tukang masak memulai memasak pukul 02.00 pagi hingga pukul 05.00. Setelah itu dilakukan pemorsian. Makanan tidak langsung dimasukkan ke ompreng untuk menghindari makanan cepat basi.
”Selesai jam 05.00 tidak langsung masuk ke ompreng karena tidak boleh makanan masuk dalam kondisi panas karena stainless menguap dia, berembun dia itu buat basi,” jelasnya.
Distribusi MBG pukul dimulai pukul 08.00 karena jadwal makan para siswa pukul 09.00. Waktu yang dibutuhkan dari dapur SPPG Abianbase ke sekolah sekitar 5 hingga 10 menit.
Sesuai juknis paling jauh pengantaran MBG jaraknya 6 kilometer. ”Batas radius dari dapur maksimal 6 kilometer,kalau di kami palingan 5 menit dari dapur ke sekolah, ” tandasnya. (feb)
Editor : Rosihan Anwar