DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar melaksanakan Asesmen Lapangan (AL) Akreditasi Program Studi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial Politik Administrasi dan Komunikasi (LAMSPAK) Denpasar, Rabu 26 November – Jumat 28 November 2025.
Proses asesmen tersebut menghadirkan dua asesor LAMSPAK. Yakni, Dr. Irwansyah, S.Sos., M.A dari Universitas Indonesia dan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani dari Universitas Diponegoro, yang melakukan penilaian secara menyeluruh terhadap penyelenggaraan pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi Undiknas.
Menghadirkan pimpinan sejumlah Lembaga berkompeten sebagai lembaga dunia kerja dan program magang. Seperti pemerintahan, lembaga penyelenggara Pemilu, media dan Yayasan.
Dalam kegiatan asesmen, ditekankan bahwa sosialisasi visi dan misi Undiknas telah dilakukan secara terstruktur melalui rapat rutin, penguatan budaya akademik, pengenalan pada mahasiswa, serta penayangan informasi akademik melalui berbagai platform media visual. Selain itu, visi misi juga diintegrasikan ke dalam kurikulum, capaian pembelajaran, dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sehingga dapat dipahami oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa secara konsisten.
Dalam hal ini, Asesor juga menyoroti Indikator Kinerja Utama (IKU) yang digunakan oleh Undiknas untuk mengukur ketercapaian visi misi kampus.
Beberapa IKU yang menjadi fokus utama dalam penilaian ini adalah penyerapan lulusan oleh industri, pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus, aktivitas dosen di lingkungan profesional, keterlibatan praktisi industri dalam perkuliahan, serta kolaborasi bersama pihak nasional dan internasional yang menghasilkan output nyata dan berdampak.
Dengan IKU tersebut, Undiknas memastikan seluruh proses akademik berjalan sesuai standar nasional pendidikan tinggi sekaligus selaras dengan kebutuhan industri pada bidang komunikasi dan media yang terus berkembang.
Dalam rangka akreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi Undiknas menjelaskan strategi yang diterapkan untuk menghadapi tantangan global dan revolusi industri 4.0–5.0, yang meliputi: digitalisasi kurikulum berbasis teknologi komunikasi, penguatan kompetensi soft skills dan literasi digital mahasiswa, kolaborasi industri kreatif melalui studio produksi digital, riset berbasis isu kontemporer, serta inkubasi wirausaha digital yang mendukung semangat “Digitalpreneur communication” sesuai dengan keunikan program studi ilmu komunikasi Undiknas. Pendekatan ini memastikan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Undiknas memiliki daya saing global serta relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa kini.
Pada asesmen lapangan, asesor juga meninjau berbagai kerjasama yang telah dijalankan secara produktif, bukan hanya pada level MoU, tetapi yang menghasilkan output nyata.
Beberapa kerjasama strategis tersebut meliputi Kerjasama Nasional dengan beberapa industri media seperti: TVRI Bali, RRI (produksi siaran dan magang mahasiswa), Radar Bali-Jawa Pos Group (pelatihan jurnalistik dan magang mahasiswa), Konsultan Komunikasi, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali (riset, sosialisasi kebijakan, pelatihan,dan magang mahasiswa), CSR dengan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota (melalui program pengabdian masyarakat dan desa binaan).
Sedangkan Kerjasama Internasional dilakukan dengan beberapa kampus ternama seperti: Edith Cowan University Australia, Teeside University UK, Long Island University New York-USA, Griffith University Australia, University of New England. Kerjasama ini menghasilkan program magang nasional, kuliah tamu, joint research, hingga workshop kreatif untuk mendukung Tridharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada peningkatan kompetensi mahasiswa.
Melalui proses asesmen lapangan ini, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Undiknas Dr. Ni Luh Yulyana Dewi, S.Ikom., M.A.P menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan manajemen SDM, mutu layanan pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Besar harapan kami, bahwa capaian Akreditasi Unggul merupakan target utama yang ingin diraih sebagai bentuk tanggung jawab dan dedikasi terhadap pendidikan tinggi di Indonesia.
“Kami berharap hasil asesmen lapangan ini dapat menjadi langkah awal bagi Program Studi Ilmu Komunikasi Undiknas untuk peningkatan kualitas meraih Akreditasi Unggul. Target ini kami jadikan motivasi untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas tata kelola, memperkuat jejaring kerjasama, dan memastikan setiap aktivitas akademik memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dan masyarakat,” ujar Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi.
Sebagai kampus dengan tagline Techno-Research-Preneur University, Undiknas terus mendorong inovasi pembelajaran dan kolaborasi strategis agar menjadi institusi pendidikan tinggi yang relevan, adaptif, dan berdaya saing global. Kegiatan asesmen lapangan ini menjadi momentum penting bagi Undiknas untuk semakin memperkuat tata kelola program studi dan meneguhkan komitmen dalam menghadirkan pendidikan bermutu bagi generasi muda Indonesia.
“Dengan rasa syukur dan bangga, kami ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada, Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) dan Perhimpunan Dikti Nasional (Perdiknas) atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepada kami dalam proses akreditasi Program Studi Ilmu Komunikasi, para alumni dan mitra yang telah memberikan konstribusi dan dukungan luar biasa dalam proses akreditasi Ilmu Komunikasi, dan seluruh pihak yang telah hadir dan turut mendukung proses akreditasi Ilmu Komunikasi kemarin, baik secara langsung maupun tidak langsung, kami sangat menghargai kerja sama dan dukungan yang telah diberikan kepada kami,” tutupnya.
Asesor dari Universitas Indonesia, Irwansyah, menjelaskan yang menjadi konsen dalam penilaian ini adalah sumber daya manusia (SDM) dosen dengan rasio yang bercukupan untuk mahasiswa, dan salah satu syarat unggul itu mengacu pada semua orientasi internasional.
"Dari sebelas standar ini, yang menjadi konsen kita adalah sumber daya manusia, hitungannya adalah dosennya. Jadi dosen itu harus memiliki rasio yang bercukupan untuk jumlah mahasiswa, jadi tidak boleh terlalu sedikit atau terlalu banyak," ujarnya.
"Logikanya itu unggul harus mengacu kepada semua berorientasi nasional. Jadi, berarti kan ada implikasinya, ada tidak kerja sama internasional, dan kerja sama itu terkait dengan perguruan tinggi," imbuhnya.
Irwansyah juga mengatakan penilaian dari infrastruktur pendukung yang paling penting adalah memfasilitasi seluruh kegiatan dari mahasiswa.
"Infrastruktur itu pertama diukur adalah yang paling penting memfasilitasi seluruh kegiatan mahasiswa, jadi sekarang kan kita sudah masuk yang namanya kurikulum OBE (Outcome Based Education), outcome itu adalah kita tidak melihat lagi hanya sekedar proses tapi harus ada projek bersama hasil dari sebuah mata kuliah," katanya.
Sebagai catatan, Irwansyah menyarankan program studi ilmu komunikasi Undiknas harus berani mengambil sebuah ceruk untuk belajar komunikasi secara khusus di Undiknas.
"Undiknas adalah salah satu PTS yang ada di Bali, khususnya di Denpasar. Kekhasan yang harus dibangun adalah selain tadi berbagai macam standar untuk mencapai unggul, Undiknas ini harus berani mengambil sebuah ceruk istilah. Ceruk dimana kalau mau belajar tentang komunikasi secara khusus tentang apapun itu, itu harus di Undiknas," pesannya. (Wardah/ Ratu)
Editor : M.Ridwan