Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

12 Naskah Kuno Berhasil Diidentifikasi, Lontar Jaran Guyang Curi Perhatian

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 16 Februari 2026 | 16:07 WIB

 

MENARIK: Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di kediaman Kadek Wijadana, Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Sabtu (14/2/2026)
MENARIK: Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di kediaman Kadek Wijadana, Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Sabtu (14/2/2026)

DENPASARradarbali.jawapos.com – Dalam upaya menjaga warisan sastra Bali, Penyuluh Bahasa Bali berhasil mengonservasi dan mengidentifikasi sebanyak 12 cakep lontar.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di kediaman Kadek Wijadana, Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini digelar oleh

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali (Disbud) menggelar Utsawa (Festival) Konservasi Lontar dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026. 

​Koordinator Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Kabupaten Buleleng, Putu Pertamayasa, mengatakan bahwa lontar-lontar yang ditemukan tergolong jenis umum.

Koleksi pribadi tersebut merupakan warisan dari kakek Kadek Wijadana dengan pesan khusus agar tetap dijaga kelestariannya.

​Adapun lontar yang berhasil diidentifikasi antara lain Aji Sumedang, Dharma Usadha, Gaguritan Gagar Mayang, Kanda Pat Rare, Krakah Modre, Panerang Pangujanan, Pawacakan, Pawistren, Piwelas, Pralingga Bhatara Ring Sarira, Ramayana Maarti, serta Jaran Guyang. Kendati tergolong kategori umum, naskah Jaran Guyang diakui kerap memunculkan rasa penasaran di kalangan masyarakat.

​“Kami menemukan jenis lontar yang tergolong umum, tidak ada yang spesifik (langka),” ujar Pertamayasa.

​Kondisi dari 12 cakep lontar tersebut sebagian besar masih utuh, namun beberapa lembar lainnya dilaporkan telah hilang.

Sebelum dikonservasi oleh tim Penyuluh Bahasa Bali, perawatan dilakukan secara terbatas oleh pemiliknya. Biasanya, lontar-lontar tersebut hanya dikeluarkan saat Hari Saraswati untuk diupacarai.

​Penyuluh Bahasa Bali berkomitmen menindaklanjuti kegiatan ini melalui proses alih aksara terhadap naskah-naskah tersebut.

“Kami berharap upaya konservasi dan identifikasi lontar milik masyarakat terus meluas, guna memperkuat pelestarian warisan sastra Bali,” tandas Putu Pertamayasa.***

 

Editor : M.Ridwan
#lontar #warisan #Bulan Bahasa Bali