TABANAN, Radar Bali.id – Masalah klasik kekurangan tenaga pendidik masih menghantui dunia pendidikan di Kabupaten Tabanan.
Dinas Pendidikan setempat mencatat masih ada lubang besar sebanyak 837 formasi guru yang belum terisi untuk mengajar di level TK, SD, hingga SMP.
Hal itu dibeberkan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tabanan, I Gusti Putu Darma Utama, di hadapan jajaran Komisi IV DPRD Tabanan saat membahas LKPJ Bupati Tabanan tahun 2025 pada Selasa (31/3/2026) kemarin.
Menurut Darma Utama, saat ini Tabanan diperkuat oleh 3.131 guru yang mengajar di 38 SMP, 286 SD, dan 11 TK. Padahal, angka ideal untuk memenuhi seluruh kompetensi mata pelajaran di Tabanan menyentuh angka 3.935 orang guru.
Dari sekian banyak kekosongan, krisis yang paling memekik terjadi di tingkat Taman Kanak-kanak (TK). Darma Utama menyebutkan bahwa daerahnya sudah tidak melakukan pengangkatan guru TK selama 15 tahun terakhir.
Kondisi ini kian runyam akibat adanya "eksodus" atau perpindahan formasi besar-besaran. Banyak guru TK, khususnya yang mengajar di TK swasta pedesaan, memilih peruntungan melamar formasi guru kelas SD dalam seleksi PPPK karena peluangnya dinilai lebih besar.
"Maka tidak heran banyak dari guru-guru TK yang sudah lolos menjadi PPPK akhirnya menempati tugas sebagai guru kelas SD. Ini yang membuat posisi guru TK makin kosong," keluh Darma Utama.
Mengenai peta sebaran guru, wilayah Penebel dan Baturiti disebut-sebut masih menjadi daerah yang sebaran gurunya belum merata jika dibandingkan dengan kecamatan perkotaan seperti Kediri, Marga, dan Tabanan.
Menyikapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Tabanan, I Gusti Komang Wastana, meminta pemerintah daerah untuk tidak tinggal diam dan terus mendorong pembukaan formasi PPPK bagi para guru yang datanya sudah terkunci di sistem Dapodik.
"Apakah nanti menggunakan skema PPPK paruh waktu atau reguler, ini akan jadi kajian intensif kami bersama eksekutif agar mutu pendidikan di Tabanan tidak pincang karena kurang guru," pungkas Wastana. [*]
Editor : Hari Puspita