AMLAPURA, Radar Bali.id – Gelombang mutasi besar-besaran baru saja menyapu lingkungan Pemerintah Kabupaten Karangasem.
Sebanyak 152 Aparatur Sipil Negara (ASN) resmi berpindah tugas, yakni sektor pendidikan menjadi yang paling dominan dengan perpindahan 106 tenaga guru. Sisanya mencakup staf teknis dan tenaga kesehatan.
Namun, di balik pergeseran kursi tersebut, sektor pendidikan di Bumi Lahar rupanya masih menyimpan "pekerjaan rumah" yang cukup berat.
Sebanyak 42 posisi kepala sekolah untuk tingkat SD dan SMP hingga kini masih kosong tanpa pejabat definitif.
Proses Panjang Menuju Definitif
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem, I Gusti Bagus Budiadnyana, mengungkapkan bahwa saat ini proses pengisian jabatan tersebut sedang dipacu. Sebanyak 86 peserta telah dinyatakan lulus dalam tahap ujian bakal calon kepala sekolah (bacakap).
Meski demikian, jalan bagi para calon pemimpin sekolah ini masih cukup panjang karena harus melewati beberapa sistem birokrasi digital pusat.
"Tahapannya berlanjut melalui aplikasi Kementerian Pendidikan, kemudian ke aplikasi IMUT milik Kementerian PAN-RB hingga tahap final. Sementara ini, posisi yang kosong masih diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt)," terang Budiadnyana saat dikonfirmasi, Senin (19/4/2026).
Ancaman Krisis Guru Kelas
Selain persoalan kursi kepala sekolah, Budiadnyana juga tidak menampik adanya tantangan lain yang lebih mendasar: krisis guru kelas. Masalah ini menjadi kronis karena setiap tahun jumlah guru yang memasuki masa purna tugas atau pensiun terus bertambah, sementara rekrutmen tidak selalu sebanding dengan jumlah kehilangan tersebut.
Pihaknya berharap, seluruh jabatan kepala sekolah yang kosong bisa segera terisi dalam waktu dekat dengan tetap menjaga integritas aturan yang berlaku.
Langkah ini dinilai krusial agar manajemen sekolah tetap stabil di tengah tantangan kekurangan tenaga pengajar yang masih membayangi Karangasem.[*]
Editor : Hari Puspita