Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kemendikti Saintek Wacanakan Tutup Prodi Tidak Relevan Kebutuhan Industri, Unud Sebut Butuh Kajian, Ini Prodi yang Terancam

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 27 April 2026 | 21:59 WIB
Ilustrasi Program Studi yang terancam dihapus karena sepi peminat
Ilustrasi Program Studi yang terancam dihapus karena sepi peminat

DENPASAR, radarbali.jawapos.com– Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) berencana mengevaluasi hingga menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.

Bagaimanan dengan Universitas Udayana (Unud) sebagai kampus terbesar di Bali pun turut memberikan respons terkait wacana tersebut?

​Kepala Unit Komunikasi Publik Universitas Udayana, Dewi Pascarani, menyatakan bahwa secara prinsip pihak kampus mendukung adanya evaluasi demi mutu pendidikan.

Baca Juga: Dukung Serangan Board Riders Challenge, KEK Kura Kura Bali Komitmen Cetak Atlet Surfing Dunia

"Wacana penataan dan evaluasi program studi oleh kementerian kami pandang perlu dilakukan secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, serta dinamika dunia kerja," ujar Dewi kemarin (27/8/2026).

​Meski mendukung, ia memberikan catatan bahwa proses penghapusan atau penataan prodi tidak boleh dilakukan secara gegabah.

"Proses evaluasi tentu perlu dilakukan secara hati-hati, komprehensif, dan berbasis kajian akademik yang mendalam," tegasnya 

Ia menjelaskan,  penyesuaian ini merupakan tuntutan bagi perguruan tinggi agar tetap bisa bersaing di era modern.

"Ini adalah bagian dari upaya menjaga mutu serta relevansi pendidikan tinggi agar mampu menjawab tantangan dan kebutuhan zaman yang terus berkembang," imbuh akademisi Ilmu Komunikasi Unud tersebut.

​Terkait langkah teknis di lapangan, pihak Unud mengaku masih memantau perkembangan informasi karena belum ada instruksi tertulis dari pusat.

"Sejauh ini kami belum menerima surat edaran dan kebijakan teknis, sehingga kami masih menunggu arahan resmi dari kementerian sebagai dasar untuk melakukan langkah-langkah lebih lanjut," terangnya.

​Menanggapi isu prodi yang kurang diminati, Dewi memaparkan beberapa bidang di Unud yang tahun ini memang mencatat angka pendaftar cenderung sedikit.

Adapun tahun ini program studi yang cenderung sedikit peminatnya antara lain Peternakan, Manajemen Sumber Daya Perairan, Fisika, Teknologi Industri Pertanian, dan Akuakultur. 

​Namun, ia membantah jika sedikitnya peminat otomatis berarti peluang kerja terbatas atau prodi tersebut layak dihapus.

Menurutnya,   jumlah peminat tidak selalu berkorelasi langsung dengan peluang kerja."Karena ada program studi yang peminatnya tidak terlalu besar tetapi memiliki kebutuhan tenaga ahli yang sangat spesifik dan strategis," jelasnya.

​Ia pun membandingkan dengan prodi populer yang justru memiliki tingkat persaingan kerja yang sangat jenuh.

 "Karena itu, pendekatan yang diperlukan harus dilihat secara lebih komprehensif, baik dari sisi kebutuhan sumber daya manusia, perkembangan ilmu pengetahuan, maupun kontribusinya terhadap masyarakat dan pembangunan," tandasnya.***

 

Editor : M.Ridwan
#prgram studi #terancam dihapus #Kemendikbud saintek