Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Catatan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali di Tiongkok: Berawal dari Telepon 2 Menit, Kini 3 Bulan Studi di Beijing

Djoko Heru Setiyawan • Kamis, 14 Mei 2026 | 20:49 WIB
BERSIH DAN LUAS: Suasana di Bandara Shanghai Pudong International Airport. Bandara ini salah satu pusat transit penerbangan yang menghubungkan Tiongkok dengan Amerika, Rusia, Eropa, Australia, hingga Afrika. (EKA PRASETYA/radarbali.id)
BERSIH DAN LUAS: Suasana di Bandara Shanghai Pudong International Airport. Bandara ini salah satu pusat transit penerbangan yang menghubungkan Tiongkok dengan Amerika, Rusia, Eropa, Australia, hingga Afrika. (EKA PRASETYA/radarbali.id)

 

Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Center (CIPP). Durasinya, selama 3 bulan di Tiongkok. Apa saja yang akan dilakukan?

 

LAPORAN EKA PRASETYA DARI TIONGKOK
LAPORAN EKA PRASETYA DARI TIONGKOK

 

EKA PRASETYA, Beijing

 

KUNJUNGAN saya ke Tiongkok bermula pada Jumat (20/3/2026). Ketika itu, Pemimpin Redaksi (Pemred) saya, Djoko Heru Setiyawan, menelepon dengan nada tergopoh-gopoh.

’’Eka, fasih nggak Bahasa Inggris?,” tanya Mas Djo--begitu saya biasa menyapanya--melalui sambungan telepon.

Saya jawab sekenanya, bahwa saya tak begitu aktif berbahasa Inggris, hanya sebatas pendengar yang pasif.

Ia kemudian menanyakan lagi tentang skor TOEFL. Kebetulan saja setahun lalu, kala menempuh pendidikan magister di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, saya sempat mengikuti tes tersebut. Skornya, tentu saja tak sebaik orang yang terbiasa berbahasa Inggris secara aktif.

Lewat sambungan telepon itu pula, ia meminta saya mengirimkan curriculum vitae (CV) dan salinan TOEFL. Mas Djo saat itu berkata bahwa, ia akan mendaftarkan saya mengikuti program kunjungan media ke Tiongkok.

Saya mengiyakan saja (ada dua redaktur Jawa Pos Radar Bali yang mengirim CV untuk program ini, Konjen Tiongkok di Bali meloloskan satu orang.

Hingga akhirnya disodori mengisi formulir). Toh, dengan skor TOEFL pas-pasan, dan pengalaman jurnalistik yang apa adanya, saya tak yakin akan lulus program tersebut. Telepon berdurasi kurang dari dua menit itu berakhir.

Setelah lima hari berselang, Mas Djo mengirimkan pesan WhatsApp. Dia meminta saya mengisi formulir yang diberikan pihak Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok di Bali.

Saya hanya diberikan waktu sehari untuk mengisinya. Karena waktunya singkat, ya sudah saya isi sebisanya.

Hari berganti hari, tak ada kabar lagi soal rencana kunjungan ke Tiongkok itu. Saya pun tak terlalu memikirkannya, karena saya pun tak yakin akan lolos ke program tersebut.

Namun, pada Jumat (24/4/2026), Erika, salah seorang staf Konjen Tiongkok di Bali menghubungi saya. Katanya saya lolos mengikuti program kunjungan ke Tiongkok.

Saat itu saya tidak bisa berkata-kata. Rasanya campur aduk, antara bersyukur dan bingung. Bersyukur karena mendapat kesempatan pergi ke negeri orang.

Bingung, karena saya akan menghadapi kendala bahasa selama ada di Tiongkok. Ah, tapi tak masalah, jalani saja.

Kabar kepergian ke Tiongkok kemudian saya sampaikan kepada keluarga pada malam harinya. Istri dan anak perempuan saya hanya diam, mereka berdua meneteskan air mata.

Sementara, putra saya cenderung cuek dan penasaran. ’’Tiongkok itu di mana?,” kata putra saya yang baru duduk di kelas 2 SD.

Sejak itu, saya mulai melakukan beberapa persiapan. Mulai dari melakukan medical check up, mengurus visa, hingga mempersiapkan berbagai perlengkapan.

Salah satunya sunscreen, karena saya akan menghadapi musim panas yang diprediksi akan jatuh pada akhir Juni nanti.

Pada Rabu (29/4/2026), saya bertemu dengan Konjen Tiongkok di Bali, Zhang Zhisheng. Pertemuan berlangsung di Denpasar.

Dalam pertemuan itu, ia menyambut hangat keberhasilan saya mengikuti program tersebut. Zhang menjelaskan, bila program kunjungan media ke Tiongkok sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, sejak 2014.

’’Tapi baru tahun ini ada jurnalis dari Bali (dua redaktur Jawa Pos Radar Bali kirim CV, Mr Zhang Zhisheng loloskan Eka, Red) yang bisa berangkat ke Tiongkok.

Ini kesempatan yang besar, mudah-mudahan akan membuka kesempatan agar lebih banyak lagi jurnalis dari Bali yang bisa ikut tahun-tahun berikutnya,” kata Zhang.

Menurut Zhang, Program China International Press Communication Centre (CIPCC) ini, merupakan program yang dirancang organisasi pemerintah di Tiongkok.

Yakni, China Public Diplomacy Association (CPDA). Tujuannya, memperkuat pemahaman jurnalis dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia, tentang kondisi terkini di Tiongkok.

Selama berada di Tiongkok, Zhang menyebut, saya akan mendapat kesempatan mengeksplorasi hal-hal yang terkait dengan Tiongkok. Mulai dari cara kerja media, kebudayaan, pendidikan, perdagangan, dan hal-hal relevan lainnya.

’’Nanti juga akan ada kunjungan ke beberapa provinsi yang relevan. Jangan khawatir, Tiongkok adalah negara yang aman,” ucapnya sambil tersenyum.

Direktur Jawa Pos Radar Bali Justin M. Herman juga sempat memanggil saya terkait program ini.

Ia berpesan, agar saya benar-benar serius mengikuti program. ’’Banyak wartawan Jawa Pos dan Radar yang belajar ke Tiongkok. Belajar yang banyak di sana,” pesannya.

Setiap tahun, CDPA menggelar dua tahap program CIPCC. Setiap tahap diikuti oleh 100 orang jurnalis dari berbagai negara, dengan durasi kunjungan rata-rata selama tiga bulan.

Nah, saya mendapat kesempatan mengikuti kunjungan tahap pertama. Selain saya, ada jurnalis Metro TV, Nadia Ayu Soraya, yang juga berasal dari Indonesia. Kami berdua, akan berada di Tiongkok hingga pertengahan Agustus mendatang.

Berangkat ke Tiongkok

Hari yang ditunggu tiba. Saya berangkat ke Tiongkok melalui Bandara Ngurah Rai pada Senin dini hari (11/5/2026).

Pesawat yang saya tumpangi, China Eastern Airlines, bertolak dari bandara pada pukul 00.55 Wita. Saya tidak langsung menuju Beijing, namun harus transit di Shanghai terlebih dulu.

Penumpang pesawat tersebut, bukan hanya warga Tiongkok yang ingin pulang usai berlibur ke Bali. Sebab, banyak juga warga negara asing (WNA) yang memilih transit ke Shanghai, sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke negaranya.

Dari beberapa penumpang, saya mendengar bila mereka ada yang ingin kembali ke Amerika, ada juga yang menuju Eropa maupun Rusia.

Ini kali pertama saya terbang dalam waktu yang lama. Perlu waktu 7 jam untuk menempuh perjalanan dari Denpasar ke Shanghai. Selama perjalanan, saya lebih banyak tidur untuk menghemat energi.

Begitu sampai di Shanghai, saya bergegas menuju meja untuk pelayanan transit penerbangan. Karena penerbangan selanjutnya menuju Beijing akan berangkat pada pukul 10.30 Wita.

Setelah sampai di meja transit, saya menuju gerbang imigrasi. Saya sempat dibuat deg-degan, karena beberapa penumpang di depan saya harus menjalani pemeriksaan cukup lama. Petugas menanyakan berbagai visa dan dokumen yang relevan.

Melihat hal itu, saya pun merogoh map merah yang sudah saya siapkan. Di dalam map itu, sudah ada surat undangan dan kontrak partisipasi program yang saya tandatangani. Ada yang versi berbahasa Inggris dan berbahasa Mandarin.

Begitu giliran saya, ternyata petugas Imigrasi Tiongkok tidak banyak bertanya. Ia hanya meminta sidik jari, lalu membubuhkan stempel masuk. Sementara dokumen lainnya, sama sekali tidak ditanyakan.

Bahkan, proses saya di meja imigrasi sangat cepat, tidak sampai 5 menit. Map yang sudah saya siapkan akhirnya kembali masuk ke dalam tas.

Setelah menunggu beberapa puluh menit, saya langsung masuk pesawat untuk menuju Beijing. Sekitar pukul 13.00, pesawat tiba di Beijing Capital Airport.

Ini adalah salah satu bandara tersibuk yang letaknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Beijing. Sementara bandara lainnya adalah Beijing Daxing International Airport yang dibangun untuk memecah kepadatan di Beijing Capital Airport, serta Beijing Xijiao Airport. 

Nah, bandara terakhir, sejak 2019 lalu tak lagi digunakan untuk melayani penumpang. Kini sepenuhnya digunakan untuk aktivitas militer.

Begitu keluar dari gerbang kedatangan, saya disambut seorang pria yang membawa kertas berlogo CIPCC. Karena terkendala bahasa, ia hanya menggunakan isyarat tangan untuk mengikutinya. Saya pun mengekor.

Namun, karena orang-orang di Tiongkok berjalan dengan langkah kaki yang cepat, saya pun ngos-ngosan dan meminta dia berjalan perlahan menuju area parkir.

Selanjutnya, kami menempuh perjalanan selama 30 menit ke pusat Kota Beijing. Di dalam mobil, kami berdua tidak bicara apa-apa.

Saya tidak bisa berbahasa Mandarin, pria yang menjemput saya juga tak fasih berbahasa Inggris. Jadi, kami pun memilih diam. Saya sendiri lebih banyak melihat-lihat pemandangan di sepanjang perjalanan.

Sekitar pukul 14.00, saya sampai di Renmin University of China. Ini adalah kampus bergengsi yang fokus pada urusan humaniora, sosial, termasuk urusan jurnalistik dan public relation. Di kampus inilah, saya dan puluhan peserta lain dari berbagai negara akan tinggal selama beberapa bulan mendatang.***

Editor : M.Ridwan
#catatan perjalanan #eka prasetya #China International Press Communication Center #jawa pos radar bali