radarbali.jawapos.com - Matematika, bagi banyak orang, sering dianggap sebagai pelajaran yang penuh angka dan rumus.
Namun, bagi Ni Kadek Ayu Sudiasih atau yang akrab dipanggil Miss Ayu, matematika sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam budaya dan seni di Bali.
Perempuan asal Bali yang lahir di Denpasar pada 22 Juli 2000 ini percaya bahwa seni dan matematika memiliki hubungan yang sangat erat.
Konsep ini dikenal dengan istilah Etnomatematika, yaitu ilmu yang mempelajari keterkaitan antara budaya dengan matematika dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Miss Ayu, masyarakat Bali sebenarnya sudah menerapkan matematika dalam berbagai bentuk seni dan tradisi sejak dahulu, meskipun sering tidak disadari.
Contohnya dapat dilihat dari bentuk-bentuk geometris dalam sarana upacara adat Bali.
Canang ceper, misalnya, memiliki bentuk persegi yang mencerminkan konsep bangun datar dalam matematika. Serobong daksina memiliki bentuk menyerupai tabung tanpa tutup.
Selain itu, pola ukiran Bali, susunan janur, bentuk pura, hingga tata letak bangunan tradisional Bali juga banyak menggunakan konsep simetri, ukuran, pola, dan geometri.
Bagi Miss Ayu, hal ini membuktikan bahwa matematika bukan hanya tentang menghitung di atas kertas, tetapi juga hidup di tengah budaya masyarakat.
Seni Bali mengajarkan keindahan, sementara matematika membantu menciptakan keteraturan dan keseimbangan dalam keindahan tersebut.
Melalui Halpa Edukasi, Miss Ayu ingin memperkenalkan cara belajar matematika yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan budaya lokal.
Ia berharap anak-anak tidak lagi takut pada matematika, karena sebenarnya mereka sudah berinteraksi dengan konsep matematika dalam aktivitas budaya yang mereka lihat setiap hari.
Miss Ayu juga menyampaikan pesan penting bagi generasi muda Bali agar tetap menjaga budaya di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, budaya dan pendidikan harus berjalan berdampingan.
“Sebagai generasi muda, kita harus bangga terhadap budaya sendiri, melestarikan seni Bali, dan terus belajar.
Karena budaya bukan sesuatu yang kuno, tetapi identitas yang membuat kita berbeda dan berharga,” ujar Miss Ayu.
Ia percaya bahwa ketika anak-anak memahami bahwa matematika ada di dalam budaya mereka sendiri, proses belajar akan menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.
Seni dan matematika bukan dua hal yang terpisah, melainkan bagian dari kehidupan yang saling melengkapi.
Melalui semangat tersebut, Miss Ayu ingin terus menginspirasi anak-anak Bali untuk mencintai budaya sekaligus tidak takut belajar matematika. Karena pada akhirnya, kehidupan tidak pernah lepas dari seni maupun matematika.
Editor : Rosihan Anwar